Jumat, 01 Juli 2016

Saat Rindu Bertanya pada Senja

Langit selalu berbeda pada setiap pukul lima belas,
tak jarang senja bercerita,
mengirimkan bait-bait sajak
ke sebuah negeri bernama kerinduan.
Kemudian ketika kau meloloskan sunyi
yang sedari tadi terperangkap dalam jeruji hati,
kemanakah seharusnya dia bertujuan?

Litani

Seperti gerak tanpa tari,
Seperti lorong tanpa tepi,
Seperti musik tanpa bunyi,
Seperti raga tanpa ruh,
Seperti mata tanpa cahaya,
Seperti itulah aku tanpaMU.
Aku malu,
Ternyata..aku hanya debu.

(Ramadhan, 9th)
14 Juni pukul 23:06

Perjalananku Mencari Rindu

Hanya ingatan..yang menjarakiku dengan waktu. Jarak itu mengingatkanku pada malam-malam yang menepi di ujung jendela. Memberiku jeda yang terlampau lama.
Dimanakah kau berada?
Di kesunyian bernama entah, ataukah di keheningan yang kuhirup bersama desahan nafas?
Dan bila aku telah kehilangan tanya, rindu hanyalah perjalananku mencari tanda.

Sudut Jendela
20 Juni 2015

Rendezvous

Aku masih ingat, pada ramadhan tahun lalu, suatu malam aku terduduk di teras sebuah masjid. Menatap langit yang megah dengan mataku yang itu-itu saja. Mata yang sama yang menatap hidup juga dengan cara yang sama. Malam itu, bulan menggantung jenaka. Setengah purnama, dan tersenyum pula. Dan aku mulai bertanya-tanya, "Ramadhan ini untuk siapa?"

Aku masih menatap langit yang sama dengan mata yang masih itu-itu saja, ketika tanya yang sama lagi-lagi masih tak bisa kujawab dengan kata-kata apapun juga. Hanya bulan yang menggantung jenaka melempar senyum dengan kerling mata padaku. Dia seolah berkata, "Hai manusia, mampuslah karena kau memiliki hati!" Ya..dan aku pun mulai merabai dada dengan jantung yang tak lagi di tempatnya.

Hari ini..aku sedang mengenang ramadhan yang sama. Masih dengan hati yang itu-itu juga. Dan aku mulai merabai dada..yang kurasa..dengan jantung yang lagi-lagi belum kembali ke tempatnya.

"Selamat jadi manusia!" Ujar bulan yang bahkan belum jadi setengah purnama.

Sudut Jendela
04 Juni 2016
16:16

Dunia Kura-Kura

Aku mendapat sebuah buku tebal dengan isi yang tidak bikin bosan dibaca ratusan kali hanya dengan harga tiga ribu rupiah. Cuma tiga ribu rupiah! Aku ingat betul harganya. Dulu aku membelinya di toko buku di sebuah mall dalam tumpukan buku obralan. Ingat juga penjualnya seorang anak muda gondrong berkacamata yang rambutnya dia ikat ke belakang, mirip Uyan di Preman Pensiun. Buku itu pun berpindah tangan hanya dengan modal tiga ribu rupiah. Sungguh perasaanku berbunga-bunga. Sama lah kiranya seperti kau makan di Pizza Hut sekenyang-kenyangnya dan pelayannya bilang, "Bill nya tiga ribu rupiah!" Apa kau tidak akan tercengang? Aku pun berlalu dari toko buku dengan senyum mengembang. Melewati deretan toko-toko baju, tas, sepatu, aksesoris, bahkan kendaraan yang selalu hanya bisa kupandang. Keluar dari mall itu bagai  keluar dari tumpukan jerami. Dan berjalan-jalan ke pasar selalu lebih kusukai. Melihat pedagang sayur, penjual makanan, pedagang ikan, dan asongan. Itu pula yang kulakukan selepas bahagia dengan buku tiga ribu di tangan. Berjalan ke arah pasar , tanpa tujuan. Dan mengenai apa yang  kudapat di pasar itu, akan kueritakan. Aku mendapat sepasang kura-kura cantik berwarna hijau. Setelah  ditawar mati-matian, bukan tega pada penjualnya, tapi karena memang uangku pas pasan, akhirnya sepasang kura-kura beserta kandang dan makanannya untuk sebulan ke depan kubayar dengan harga lima puluh ribu rupiah. Entah kenapa aku membeli kura-kura, mungkin..karena aku selalu merasa mirip kura-kura. Diam dan lamban. Selalu sembunyi di balik cangkang. Dan memandang kura-kura di saat sedang sendirian seperti ini..bisalah membuatku merasa berkawan. Dan betul kiranya demikian. Setiap bangun aku  memandang sepasang kura-kura tersebut dan merasa dunia begitu sejuk. Dunia sepi yang dingin. Dunia yang menjaga kewarasan tetap diam pada tempatnya. Dunia yang berhasil menyelamtkanku dari keinginan menjadi tiada. Ya, dunia kura-kura.

22 Januari 2016

Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Salah satu hal yang menarik dari pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah bahwa menurutnya, anak yang belajar dalam kondisi di bawah paksaan dan hukuman, apabila telah dewasa, mereka tidak akan mampu bekerja kalau tidak dipaksa atau kalau tidak ada perintah. Itulah kenapa Ki Hajar Dewantara tidak mengikuti pola pendidikan barat waktu itu yang memiliki ciri 'perintah', 'hukuman', dan 'ketertiban'. Hukuman yang diberlakukan biasanya untuk mencegah terjadinya perbuatan yang salah pada anak didik, dan biasanya tidak seimbang dengan kesalahan anak. Menurut Ki Hajar Dewantara, model pendekatan pendidikan seperti itu merupakan salah satu bentuk perkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak.
Oleh karenanya, Ki Hajar Dewantara lebih menekankan pendekatan yang bersifat Momong, Among, dan Ngemong. Anak didik dipimpin dan dibimbing untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga peran guru adalah sebagai pendamping dan orang yang membantu mengarahkan siswa sesuai dengan perkembangannya. Hal itu selaras dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara sendiri, yaitu menurutnya pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam artian menjadi manusia yang mandiri, yang tidak tergantung kepada orang lain baik lahir maupun batin.

Ramadhan,
26 Juni 2016
07:26

Malam Ketujuh Ramadhan

Malam Ketujuh Ramadhan...
Katanya Tuhan suka yang ganjil,
Maka tak apa mungkin ketika rinduku tak juga kunjung genap.
Bukankah di luar sana bulan juga cuma separuh?

Malam Ketujuh Ramadhan...
Aku mengurung sunyi dalam sangkar ketakpastian,
Merantainya dengan gelang-gelang sepi yang sedingin batu kali.
Sampai suatu hari..mungkin kau akan membukanya kembali.

Malam ketujuh ramadhan...
Kunyalakan kipas angin dan mulai membaca puisi demi puisi,
Bukankah katamu "Suatu hari aku akan menjemputmu?"


Malam Ketujuh Ramadhan
12 Juni 2016
21:32

Kekasih Sunyi

Ada yang tak biasa malam ini,
Sepi menaruh lengannya di ujung keheningan.
Kemudian dia bertanya pada bulan separuh yang tersenyum hambar, "Kemanakah jingga pulang?"
Tak ada jawaban.
Hening...

Lantas sepi mulai berjalan perlahan,
Melangkahkan kaki-kaki kepercayaan yang setengah mati tak ia biarkan pincang.
Kaki itulah yang menopangnya selama di jalanan.
Memercayai setiap doa-doa dan harapan yang meluncur dari ketinggian angan-angan tentang sebuah ketentraman bernama kasih sayang.

Dari kejauhan, terdengar sunyi berujar,
"Aku merinduimu sebanyak tetesan hujan.."

Sudut Jendela
12 Juni 2016
21:46

Kisah Sepenggal Rindu

Yang paling tidak menarik dari sunyi
adalah kau bisa mendengar detak jantungmu sendiri

Dan yang tidak menarik dari mendengar detak jantungmu sendiri adalah
selalu diteriakkannya namamu disana.

Dan yang paling tidak menarik dari mendengar jantung sendiri meneriakkan namamu adalah selalu terasa ngilu bagai diris sembilu.

Karena namamu, berarti RINDU...

Di Keheningan Ramadhan
16 Juni 2016
21:58

Ayah dan Kejujuran

Semasa sekolah dulu dan sering diantar jemput oleh ayah, tak pernah sekali pun saya melihat ayah melanggar peraturan berlalu lintas meski tak ada yang melihat. Ayah lebih memilih memutar jalan yang jaraknya jauh daripada melanggar rambu "Dilarang berbelok" meski tak ada seorang pun yang melihat. Dan karena hal itu, meski ayah tak pernah bilang, "Kamu tidak boleh menyontek ketika ujian!" Seumur hidup saya tak pernah berani menyontek.

Dan sampai sekarang, saya tak pernah bertemu orang lain yang sejujur ayah. Tak seorang pun.

Saya sering merenung ketika mendengar kata "Jujur." Sebetulnya apa makna kata itu bagi manusia? Masih pentingkah kejujuran di jaman seperti sekarang? Masih berhargakah kejujuran di tengah-tengah manusia yang tak menghargainya? Masih perlukah seorang manusia jujur? Lantas, buat siapa dan untuk apa jujur itu?

Dan ketika terlalu banyak manusia yang tak menghargai arti kejujuran, saya selalu ingin menanyakan satu hal, "Apa arti jujur buatmu?"

Sudut Jendela
Ramadhan, 15
2016

Menamai Sunyi

Aku hanya penyendiri yang kecanduan sunyi.
Sehingga sepi kugandrungi seperti pagi pada matahari.
Demikian pula ketika kebisuan lebih memekakkan telinga ketimbang ramai yang terlambat datang, itu pun kusebut puisi.
Dan pada setiap ujung malam yang terdiam,
aku selalu mendengar waktu dan kenangan saling bergumam.

(Sudut Jendela, 010716)

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.