Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2017

Si Pucuk Kalumpang dan Nilai Kehidupan

Cerita yang selalu membuat saya menangis ketika kecil selain dongeng Budak Pahatu adalah dongeng Si Pucuk Kalumpang. Sampai sekarang masih selalu tak habis pikir bagaimana bisa orang Sunda jaman dahulu membikin cerita seperti itu. Kadang saya tak paham apa sebab cerita-cerita tersebut selalu membuat saya menangis. Karena jika hanya perasaan sedih, rasanya tak cukup bisa membuat menangis. Dan ketika membaca kembali cerita-cerita tersebut yang dahulu hanya saya dengar sebagai dongeng pengantar tidur, ternyata mengingatkan kembali pada perasaan-perasaan itu. Perasaan yang sewaktu kecil tak saya ketahui apa namanya. Dan tahulah sekarang..perasaan itu adalah sunyi dan hampa. Kesunyian yang menjerit kencang  ketika ibunya Pucuk Kalumpang terpaksa memberikan bayi perempuan pertamanya itu pada Nini paraji, dan hampa sehampa-hampanya ketika sang ibu melihat anaknya, Si Pucuk Kalumpang, membawa kain putih hasil tenunannya sendiri buat ayah yang tak menginginkannya bahkan ingin membinasakannya. Begitulah..meski pun akhirnya sama seperti kisah Nyi Bungsu Rarang maupun Purba Sari yang kemudian bertemu bahagia, Si Pucuk Kalumpang pun mendapat bahagia pula. Lagi-lagi..kebahagiaan yang diperoleh setelah penderitaan yang tak alang kepalang. Begitulah dongeng, selalu.. penderitaan diganjar kebahagiaan, kesedihan dibalas kesenangan. Asal sabar dan menerima semua ketentuan dengan keikhlasan.

Dongeng mengajarkan kita untuk memetik buah manis setelah sekian lama merasakan susah payahnya menanam. Dongeng-dongeng semacam ini menghargai proses perjalanan hidup manusia. Bahwa segala sesuatu tak didapat begitu saja dengan instan. Meski pun ada unsur-unsur mistis dan hal-hal yang tak masuk akal, tetapi tak dijadikannya itu sebagai jalan pintas untuk mencapai suatu tujuan. Dan lagi-lagi..saya dibuat takjub dengan cara para orang tua jaman dulu mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Lantas, masih relevan kah dongeng dengan masa sekarang? Tentunya tak cukup jawaban iya atau tidak. Tapi ini perihal bagaimana seseorang memaknai sebuah cerita sehingga tak hanya jadi sekedar cerita. Dongeng, meski tak secara eksplisit dapat membawa pengaruh positif terhadap kehidupan, tetapi tak dapat disangkal pula bahwa dongeng-dongeng yang bermuatan nilai-nilai kebajikan sedikitnya dapat melahirkan manusia-manusia yang setidaknya menghargai nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri. Manusia yang tak senang mencari keuntungan instan dengan menggandakan uang atau mencuri di siang terang , tak suka tawuran atau sekedar bersilat lidah menjatuhkan orang, apalagi menjadi seorang yang mahir memancing di air keruh.

Dongeng pada dasarnya menyampaikan yang tak tersampaikan, mewakili yang tak terucapkan, menasihati dan mengkritik sekaligus tanpa harus menyinggung siapa pun. Dongeng adalah dunia penuh warna yang perlu kita perlihatkan pada anak-anak. Mewarnai masa tumbuh kembang mereka dengan warna warni yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan tentu akan menjadi suatu hal yang menggembirakan.

Selamat mendongeng!

Ujungpetang
160117

Jumat, 01 Juli 2016

Musim Ujian

Kemarin murid saya yang tidak pernah betah duduk diam ketika belajar membawa bilah bambu ke kelas saat jam istirahat. "Nemu di belakang," jawabnya singkat ketika kutanya. Tak lama, dia bersama kawannya yang lain meminjam pisau entah dari mana, "mau bikin mainan bu," lagi-lagi dia menjawab ketika kularang membawa pisau ke kelas. Akhirnya kubiarkan saja. Kuperhatikan apa yang diperbuatnya dengan bambu dan pisau itu. Dan lebih kurang setengah jam, bilah bambu itu telah berubah wujud menjadi pedang-pedangan kecil dengan bentuk yang memang mirip pedang. Rupanya anak itu memiliki bakat yang luput dari pengamatanku.
Lain lagi dengan muridku yang satunya, dia kesulitan membaca di usia yang telah remaja, tapi sangat pandai dalam matematika. Atau yang satunya lagi yang lebih senang bernyanyi dan pandai memainkan alat musik, tapi kesulitan dalam hampir semua mata pelajaran.
Sementara ujian telah di ambang mata..saya jadi sangat khawatir. Mampukah mereka dengan kemampuan yang berbeda-beda itu melaksanakan ujian dengan standar penilaian yang sama?
Saya jadi membayangkan, sekiranya para siswa itu diibaratkan penghuni kerajaan binatang seperti harimau, gajah, burung, monyet, ikan, banteng, kancil, kura-kura, dsb. Kemudian suatu hari mereka harus mengikuti ujian di sekolah dengan mata ujian "memanjat pohon," kira-kira siapa yang bakalan lulus?
Tak salah kiranya ketika Albert Einstein berkata bahwa setiap orang itu jenius. Namun jika kita menilai ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidup dia akan merasa dirinya bodoh.

(NB: Buat anak-anakku kelas 6, selamat mempersiapkan diri menempuh ujian. Ingat, nilai bisa dicari, kejujuran tak bisa dibeli!)

Ruang Kelas, Selepas Mengajar
25 Maret 2016
pukul 10:57

Mengenang Ananda Fajar Kelas 6B

Bukankah Tuhan menyintai dengan cara yang paling indah?
Tiada yang menggembirakan seorang kekasih selain berpulang ke sisi kekasihnya. Selamat jalan, Nak..!

Sukabumi
18 April 2016

Balada Ujian Sekolah

Aku rindu sekolah yang di dalamnya ada anak-anak yang tertawa-tawa, mereka bebas berlari mengejar bola atau menggambar dengan ceria.

Aku rindu sekolah yang di dalamnya ada anak-anak yang tersenyum bahagia, mereka bisa membuat karya apapun yang mereka suka dan memperlihatkannya pada dunia.

Aku rindu sekolah yang di dalamnya hanya ada anak dan orang tua. Mereka menjalin kasih sayang tak sebatas sebutan "Pa Guru, Bu Guru atau Nak!"

Aku rindu sekolah yang di dalamnya bergema mimpi-mimpi dan harapan yang terus dinyanyikan..

Aku rindu sekolah yang ijazahnya adalah selembar kasih sayang dan kejujuran...

Ruang Jiwa
17 Mei 2016, 12:34
(Selepas Ujian Sekolah)

Petualang Cilik

Petang ini beberapa orang murid datang ke rumah. Dalam hujan mereka berkerumun di teras yang sempit, bercakap dalam bisik yang ujung - ujungnya kedengaran juga berisiknya. Seorang anak yang paling besar karena usianya pun sebetulnya telah melampaui usia SD, dikarenakan terlalu seringnya tidak naik kelas itu menghampiriku perlahan. Dia mencium tanganku dan tangan semua orang yang ada di rumah. Kemudian duduk di lantai mengikutiku. "Mau ada perlu sama ibu," ujarnya sopan.
Aku senyum-senyum saja melihat tingkahnya, karena bagiku yang dalam keseharian bersama anak itu terus, tingkahnya itu terasa janggal. "Sejak kapan dia bisa bersikap manis?" Tapi tentu tak kuutarakan. Sehabis hujan reda, segerombolan remaja tanggung itu pun meninggalkan teras rumah juga. Berboncengan mereka menuju rumah masing-masing.
Ada satu kekhawatiran sebetulnya ketika menyaksikan punggung mereka menghilang dibawa cepat larinya sepeda motor, yaitu mengenai "Akan jadi apa mereka kelak?" Cukupkah mereka menjadi apa yang dicita-citakannya saja? Cukupkah mereka hanya jadi dokter? Hanya jadi guru? Hanya jadi tentara atau polisi seperti yang selalu mereka bilang setiap kali ditanya perihal cita-cita? Ah..tentunya masa depan tak sesederhana itu.
Bukanlah dokter, guru, polisi, tentara, presiden, artis atau pun pengusaha yang akan meninggikan derajat mereka. Tentu saja bukan. Ini mengenai bagaimana caranya menjadi manusia. Menjadi dewasa melalui sebuah proses yang berupa jalan panjang yang memerlukan petunjuk. Jadi apapun mereka kelak. Mereka tak bisa berjalan sendirian, tak bisa dibiarkan memilih jalan yang tak mereka ketahui ujungnya akan sampai dimana. Mereka adalah para petualang cilik yang masih memerlukan kompas, peta, dan bahkan perbekalan yang memadai. Dalam perjalanan yang penuh dengan kesiapan itulah, mereka akan menuju puncak keberadaanya. Mereka akan memahami hakikat menjadi dewasa, dan pada akhirnya..mereka akan paham apa itu hakikat manusia.
Kitalah kompas dan peta itu. Kita pula yang akan menyediakan perbekalan buat mereka.
Kitalah..
para orang tua dan guru...

Ruang Jiwa
20 Mei pukul 22:16

Sekolah Negeri, Untuk Siapa?

Sementara sekolah-sekolah negeri favorite mulai sibuk menjaring siswa-siswa berprestasi, lantas kemanakah larinya siswa-siswa yang "dianggap" tidak berprestasi? Dengan tidak bermaksud mengabaikan prestasi anak yang dicapai dengan kesungguhan dan kegigihan dalam belajar, saya sering berpikir, "Apakah pelayanan pendidikan yang maksimal hanya untuk anak-anak pintar?" Bukankah anak-anak yang kurang berprestasi pun layak dan pantas mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal?
Dan saya sungguh merasa salut, dengan sekolah-sekolah yang mau menerima dan menampung anak-anak yang dicap "bodoh, nakal, dan berandalan." Kesediaan untuk menerima dan mendidik mereka merupakan hal yang luar biasa. Karena kewajiban negara bukan hanya memintarkan siswa yang pintar saja, akan tetapi mencerdaskan seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. Menjadikan mereka anak-anak yang cerdas tidak hanya dalam segi akademik, melainkan juga cerdas emosional dan spiritual. Bukankah begitu yang tertera dalam amanat pendidikan nasional kita?
Dan karena pendidikan bukan hanya milik anak-anak pintar, sangat bijak kiranya apabila sistem seleksi di sekolah -sekolah tidak lagi hanya untuk memilah-milah yang pintar dengan yang tidak pintar. Akan tetapi, alangkah bijaknya apabila seleksi itu hanya untuk memetakan kemampuan siswa saja guna kepentingan proses pembelajaran.
Wallahualam...

27 Mei pukul 13:19

Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Salah satu hal yang menarik dari pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah bahwa menurutnya, anak yang belajar dalam kondisi di bawah paksaan dan hukuman, apabila telah dewasa, mereka tidak akan mampu bekerja kalau tidak dipaksa atau kalau tidak ada perintah. Itulah kenapa Ki Hajar Dewantara tidak mengikuti pola pendidikan barat waktu itu yang memiliki ciri 'perintah', 'hukuman', dan 'ketertiban'. Hukuman yang diberlakukan biasanya untuk mencegah terjadinya perbuatan yang salah pada anak didik, dan biasanya tidak seimbang dengan kesalahan anak. Menurut Ki Hajar Dewantara, model pendekatan pendidikan seperti itu merupakan salah satu bentuk perkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak.
Oleh karenanya, Ki Hajar Dewantara lebih menekankan pendekatan yang bersifat Momong, Among, dan Ngemong. Anak didik dipimpin dan dibimbing untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga peran guru adalah sebagai pendamping dan orang yang membantu mengarahkan siswa sesuai dengan perkembangannya. Hal itu selaras dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara sendiri, yaitu menurutnya pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam artian menjadi manusia yang mandiri, yang tidak tergantung kepada orang lain baik lahir maupun batin.

Ramadhan,
26 Juni 2016
07:26

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.