Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 November 2017

Hang Tuah Cinta Laut

Kami adalah anak-anak negeri,
Seperti kecintaan kami pada ibu pertiwi,
Begitu pun cinta kami pada tanah yang kami pijak ini,
Pada debur ombak yang kami arungi ini,
Pada angin berembus dan aroma pasir yang wangi di setiap pantai yang membentang di Indonesia Raya ini.

Jika engkau bertanya, dimanakah tanah airmu?
Maka akan kujawab disinilah dimana ikan ikan begitu melimpah ruah,
Terumbu karang membentang indah,
Pasir pasir berkilauan bak mutiara,
Ombak ombak berkejaran amat gairah.
Disinilah di bumi yang kami pijak yang kami sebut tanah air,
Tempat darah tertumpah ketika kami lahir,
Tempat tertawa bahagia juga menagis sedih,
Sampai akhir menutup mata seperti lagu Indonesia Pusaka,
Disinilah tanah air kami.

Kami anak-anak negeri,
Hangtuah kecil yang mana laut menjadi bagian dari kami.
Ijinkan kami menjaga warisan nenek moyang kami,
Negeri maritim yang amat kaya dan luas ini.

(NB: "Hang Tuah Cinta Laut" tolong yaa..ditunggu..! Puisi anak! Kata seorang teman di WA nya. Akhirnya saya buatkan juga meski jadinya seperti ini.. hehe..😅 maaf yaaa...saya tak pandai bikin puisi..)

Senin, 16 Januari 2017

Lalampahan

Geuning basa bulan sapasi ngeunteung dina tungtung lamunan,
Aya harepan nu ngawang-ngawang,
Mapat ngembat balungbang ka jalan bentang,
Mapag ringkang nu geus tiheula miang…

Nyorang sawangan na umpalan peuting,
Na ieu kitu jalan nu kudu disorang ku kuring?
***

181016
peutingjempling

Selasa, 05 Juli 2016

Do'a

Setahun begitu cepat berlalu.
Bukan waktu yang merisaukanku,
Tapi apa-apa yang kuhabiskan bersama waktu.
Pada saat tiba masanya mulut dikunci,
Tangan dan kaki yang bicara,
Waktu akan menyeretku dalam masa-masa yang tak bisa kusangkal.
Maka..Rabb...
Bila aku lebih lusuh dari baju kotor,
Lebih nista dari orang paling berdosa,
Rahmat dan ampunanMu lah yang tiada henti kupinta.

(29 Ramadhan)

Jumat, 01 Juli 2016

Kereta dan Kenangan

Terakhir berkereta...ada yang tertinggal di stasiun pemberangkatan; Kenangan!

Stasiun Kereta Cianjur
2 April 2016
pukul 18:16

Kopi Selalu Mengajak Berpuisi

Aku tak tahu gelas kopi itu bicara apa pada malam.
Hanya sekeping kata yang jatuh di keheningan.
Pada muram..
pada jarum jam yang berhenti berdetak,
Pada waktu yang tak mau menunggu..
pada aku yang sudah jemu.
Pada kamu..
Pada entah yang dihantar gelisah,
Pada jendela yang tak bicara,
Pada kita..
yang tak lagi sama.
Sudut Jendela
1 Mei 2016
16:44

Aku Pulang..!

Aku pulang, Jingga..!
Pada pantai yang selalu memanggil namaku.
Disana aku menemukanmu,
pada angin laut yang bernyanyi,
pada nyiur-nyiur yang menari,
pada pasir yang tidak pernah sunyi.

Aku pulang...
Aku bosan jadi pengelana.
Biar aku rebah di bawah nyiur di atas pasir,
memandang sampan yang menjelma dari matamu.

Ujung Genteng
16 Desember 2015 pukul 12:18

Tentang Kamu


Ada pantai Lombok di matamu,
Ada Venesia di matamu,
Ada jalanan Broadway di matamu,
Ada sungai Nil di matamu,
Ada Mesir di matamu,
Ada Turki di matamu..
Sehingga kadang,
aku merasa tak perlu lagi kemana-mana.

Sudut Jendela
03 Mei 2016
14:35

Tentang Kamu


Ada pantai Lombok di matamu,
Ada Venesia di matamu,
Ada jalanan Broadway di matamu,
Ada sungai Nil di matamu,
Ada Mesir di matamu,
Ada Turki di matamu..
Sehingga kadang,
aku merasa tak perlu lagi kemana-mana.

Sudut Jendela
03 Mei 2016
14:35

Percakapan Senja

Jingga berkirim pesan pada biru yang kelabu, "Aku rindu, aku ingin menemuimu!" Tulisnya pada secarik kenangan usang dengan tinta hitam. Sementara, biru menggigil di ujung kenangan. "Hatiku hampir beku." Bisiknya..pada awan yang berarak di keheningan.

Sudut Jendela
3 September 2015

Carita Sisi Sagara

Geus titis tulis,
Basa lambak neumbag karang sakedapan.
Aya geter nyaliara ka sagara.
Ieu rasa micangcam mangsa balungbang,
Tibelat ka mangsa katukang.
Basa dalingding angin jaladri,
Mangpengkeun kasimpe nu mepende hate.
Kuring surti basa angin tarung jeung pangwelah,
Meureun endah mun hirup kawas sagara.

(Ujung Genteng, 2015)
8 Mei015
13:35

Balada Ujian Sekolah

Aku rindu sekolah yang di dalamnya ada anak-anak yang tertawa-tawa, mereka bebas berlari mengejar bola atau menggambar dengan ceria.

Aku rindu sekolah yang di dalamnya ada anak-anak yang tersenyum bahagia, mereka bisa membuat karya apapun yang mereka suka dan memperlihatkannya pada dunia.

Aku rindu sekolah yang di dalamnya hanya ada anak dan orang tua. Mereka menjalin kasih sayang tak sebatas sebutan "Pa Guru, Bu Guru atau Nak!"

Aku rindu sekolah yang di dalamnya bergema mimpi-mimpi dan harapan yang terus dinyanyikan..

Aku rindu sekolah yang ijazahnya adalah selembar kasih sayang dan kejujuran...

Ruang Jiwa
17 Mei 2016, 12:34
(Selepas Ujian Sekolah)

Saat Rindu Bertanya pada Senja

Langit selalu berbeda pada setiap pukul lima belas,
tak jarang senja bercerita,
mengirimkan bait-bait sajak
ke sebuah negeri bernama kerinduan.
Kemudian ketika kau meloloskan sunyi
yang sedari tadi terperangkap dalam jeruji hati,
kemanakah seharusnya dia bertujuan?

Litani

Seperti gerak tanpa tari,
Seperti lorong tanpa tepi,
Seperti musik tanpa bunyi,
Seperti raga tanpa ruh,
Seperti mata tanpa cahaya,
Seperti itulah aku tanpaMU.
Aku malu,
Ternyata..aku hanya debu.

(Ramadhan, 9th)
14 Juni pukul 23:06

Perjalananku Mencari Rindu

Hanya ingatan..yang menjarakiku dengan waktu. Jarak itu mengingatkanku pada malam-malam yang menepi di ujung jendela. Memberiku jeda yang terlampau lama.
Dimanakah kau berada?
Di kesunyian bernama entah, ataukah di keheningan yang kuhirup bersama desahan nafas?
Dan bila aku telah kehilangan tanya, rindu hanyalah perjalananku mencari tanda.

Sudut Jendela
20 Juni 2015

Rendezvous

Aku masih ingat, pada ramadhan tahun lalu, suatu malam aku terduduk di teras sebuah masjid. Menatap langit yang megah dengan mataku yang itu-itu saja. Mata yang sama yang menatap hidup juga dengan cara yang sama. Malam itu, bulan menggantung jenaka. Setengah purnama, dan tersenyum pula. Dan aku mulai bertanya-tanya, "Ramadhan ini untuk siapa?"

Aku masih menatap langit yang sama dengan mata yang masih itu-itu saja, ketika tanya yang sama lagi-lagi masih tak bisa kujawab dengan kata-kata apapun juga. Hanya bulan yang menggantung jenaka melempar senyum dengan kerling mata padaku. Dia seolah berkata, "Hai manusia, mampuslah karena kau memiliki hati!" Ya..dan aku pun mulai merabai dada dengan jantung yang tak lagi di tempatnya.

Hari ini..aku sedang mengenang ramadhan yang sama. Masih dengan hati yang itu-itu juga. Dan aku mulai merabai dada..yang kurasa..dengan jantung yang lagi-lagi belum kembali ke tempatnya.

"Selamat jadi manusia!" Ujar bulan yang bahkan belum jadi setengah purnama.

Sudut Jendela
04 Juni 2016
16:16

Malam Ketujuh Ramadhan

Malam Ketujuh Ramadhan...
Katanya Tuhan suka yang ganjil,
Maka tak apa mungkin ketika rinduku tak juga kunjung genap.
Bukankah di luar sana bulan juga cuma separuh?

Malam Ketujuh Ramadhan...
Aku mengurung sunyi dalam sangkar ketakpastian,
Merantainya dengan gelang-gelang sepi yang sedingin batu kali.
Sampai suatu hari..mungkin kau akan membukanya kembali.

Malam ketujuh ramadhan...
Kunyalakan kipas angin dan mulai membaca puisi demi puisi,
Bukankah katamu "Suatu hari aku akan menjemputmu?"


Malam Ketujuh Ramadhan
12 Juni 2016
21:32

Kekasih Sunyi

Ada yang tak biasa malam ini,
Sepi menaruh lengannya di ujung keheningan.
Kemudian dia bertanya pada bulan separuh yang tersenyum hambar, "Kemanakah jingga pulang?"
Tak ada jawaban.
Hening...

Lantas sepi mulai berjalan perlahan,
Melangkahkan kaki-kaki kepercayaan yang setengah mati tak ia biarkan pincang.
Kaki itulah yang menopangnya selama di jalanan.
Memercayai setiap doa-doa dan harapan yang meluncur dari ketinggian angan-angan tentang sebuah ketentraman bernama kasih sayang.

Dari kejauhan, terdengar sunyi berujar,
"Aku merinduimu sebanyak tetesan hujan.."

Sudut Jendela
12 Juni 2016
21:46

Kisah Sepenggal Rindu

Yang paling tidak menarik dari sunyi
adalah kau bisa mendengar detak jantungmu sendiri

Dan yang tidak menarik dari mendengar detak jantungmu sendiri adalah
selalu diteriakkannya namamu disana.

Dan yang paling tidak menarik dari mendengar jantung sendiri meneriakkan namamu adalah selalu terasa ngilu bagai diris sembilu.

Karena namamu, berarti RINDU...

Di Keheningan Ramadhan
16 Juni 2016
21:58

Menamai Sunyi

Aku hanya penyendiri yang kecanduan sunyi.
Sehingga sepi kugandrungi seperti pagi pada matahari.
Demikian pula ketika kebisuan lebih memekakkan telinga ketimbang ramai yang terlambat datang, itu pun kusebut puisi.
Dan pada setiap ujung malam yang terdiam,
aku selalu mendengar waktu dan kenangan saling bergumam.

(Sudut Jendela, 010716)

Selasa, 14 Juni 2016

Sepucuk Surat Buatmu

Ketika kutitipkan cinta padamu,
Awan menjelma hujan
Kemudian menjadi sungai-sungai yang mengalirkan harapan
Mengikutimu, entah kemana

Ketika ulat menjadi kepompong dan kemudian
Kupu-kupu cantik pun terbang mengangkasa,
Terbang pulalah semua prasangka
Dan yang tertinggal hanya ketulusan

Ketika kuberikan seuntai rindu padamu,
Turut pula sekerat mimpi warna-warni
Menjadi pelangi sepanjang hari-hariku

Ketika kutitipkan cinta padamu,
Begitu jugakah hatimu?

(Ramadhan, 10th)

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.