Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

Antara Aku dan Istriku



 Oleh :Noer Milansyah

Aku adalah lelaki itu. Lelaki yang sama yang telah menyakitinya ribuan tahun lalu. Hari ini aku kembali, kembali untuk kembali menyakiti hatinya dan mengoyak-ngoyak perasaanya.  Tapi entahlah..aku tak mengerti jalan pikirannya, setiap kali kedatanganku, dia selalu menyambutku dengan senyum terindah yang pernah kulihat. Bola matanya selalu berbinar terang dan lengkung di bibirnya tak pernah menjadi lurus setiap kali dia menatapku.. entahlah..sekali lagi aku jadi bingung dan membiarkan hatiku bertanya-tanya, “benarkah wanita ini yang telah tega kusakiti?” seperti halnya hari ini, aku datang, dengan tak pernah membawa kebahagiaan. Tapi tak pernah sedikit pun kutemukan kesedihan di raut wajahnya. Dia, membukakan pintu, tersenyum seperti biasanya, dan membiarkanku masuk seakan tak pernah terjadi apa-apa. Di sini, hatiku mulai bertanya-tanya lagi, “Siapakah sebenarnya yang pecundang? Dia atau aku?” ah..tentu saja bukan dia. Tak ada pecundang yang membukakan pintu bagi rival nya dengan tersenyum.
***
Secangkir teh hangat menemani kebersamaan kami sore itu. Dia, wanitaku itu sedang duduk di sampingku dengan tatapan kosong matanya. Setelah sekian lama, ternyata sifatnya tak berubah. Lima tahun setelah kami mengikat janji, dan bersumpah untuk setia sebagai suami istri, hanya dia yang menepati janjinya untuk tetap  setia. Sedangkan aku? Kata setia sepertinya tidak pernah ada dalam kamus hidupku. Setia bagiku hanyalah sebuah omong kosong dan sederajat dengan mitos tentang hantu sandekala untuk menakut-nakuti anak kecil yang keasyikan bermain dan lupa pulang walau hari telah gelap. Tapi tampaknya tidak begitu bagi dia.  Wanitaku itu. Setia sepertinya telah jadi kata-kata keramat yang pantang untuk dilanggar, sehingga tak sedikit pun dia berani menghilangkan kata itu dari benaknya. Pernah suatu kali dia berkata kepadaku, bahwa tak ada cita-cita yang paling agung bagi seorang wanita selain menjadi istri yang setia. Aku tersenyum mendengarnya.  Berbangga hati karena memiliki seorang istri yang begitu menjunjung tinggi arti sebuah pernikahan. Mungkin, akan ada yang bertanya, bagaimana dengan cinta? Ah..jangan tanyakan lagi soal cinta padanya. Tak sedetik pun dalam hidupnya yang dia lewatkan tanpa berkata “aku cinta padamu”. Dan aku, tentu saja aku juga mencintainya.
***
Tapi aku adalah laki-laki. makhluk tuhan yang diciptakan terlebih dahulu dari perempuan. Sedangkan perempuan, perempuan hanya diciptakan dari tulang rusukku. Sekali lagi kutegaskan, aku laki-laki! walau tak ada yang menyangkal kelaki-lakianku, tetap akan kutegaskan lagi, aku adalah laki-laki! camkan itu! Supaya semuanya paham apa yang akan kuutarakan selanjutnya.
***
Perihal cintaku pada wanitaku itu, tak pernah kusangkal. Aku memang menyintainya. Bahkan sangat menyintainya. Tapi bukankah setia dan tidak setia tidak ada hubunganya dengan cinta dan tidak cinta? Itu adalah dua hal yang berbeda. Dan aku sedang jatuh cinta. Tentu tak ada yang salah dengan jatuh cinta. Siapa orang yang bisa melarang jatuh cinta? Presiden atau ketua PBB sekali pun tak ada yang bisa mencegah ketika cinta datang dengan tiba-tiba. Itu pulalah yang terjadi padaku. Aku jatuh cinta kembali. Bukan kepada wanitaku itu. Bukan. Tapi kepada seorang wanita yang selalu memakai blazer merah marun di kantorku. Kami kenal telah lama, selama aku bekerja di kantor itu. Tapi begitulah mungkin cinta, datang tak diundang, pergi pun mungkin nanti tanpa permisi. Sampai sejauh ini kukira ini tak jadi masalah. Urusan hati..siapa yang bisa mengintervensi? Tapi rupanya cintaku kepadanya semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika gayung bersambut. Rupanya dia juga menaruh hati padaku. Tentu bisa disimpulkan apa yang terjadi selanjutnya ketika dua orang yang saling jatuh cinta bertemu. Ya..kami pun berlaku selayaknya sepasang kekasih yang lagi kasmaran. Kemana – mana bersama. Bahkan jam kerja pun rela tersita demi sebuah pertemuan pelepas rindu.
***
wanitaku itu rupanya mencium aroma tidak sedap dariku. Dalam hal ini kuakui kalau wanita adalah makhluk paling sensitive dan paling berperasaan. Mereka kadang bisa berlaku selaku polisi atau anjing pelacak. Bagaimana tidak, hubunganku dengan kekasih gelapku di kantor sudah kututupi serapat mungkin. Tak ada yang tahu, termasuk teman-temanku. Tak ada seorang pun yang tahu. Tapi rupanya naluri perempuan tak pernah bisa dibohongi. Entah dengan cara seperti apa, kurasa dia tahu apa yang kulakukan di belakangnya. Tapi anehnya, tak terlontar pertanyaan itu. Pertanyaan yang kutunggu-tunggu dan telah kusiapkan jawabanya jauh-jauh hari sesiap seperti akan menghadapi presentasi di kantor. Tapi, hari demi hari..tak pernah terlontar tanya itu. “Apakah kamu selingkuh?”. Sama sekali tak pernah kudengar.
***
“Makan malam sudah siap Mas”, katanya membuyarkan lamunanku. Kulihat wajahnya tampak sedikit lelah. Dia mengenakan T-shirt putih dan celana baggy berwarna cream. Harus kuakui, dia cantik. Bahkan di usianya yang tak lagi muda. Aku hanya tersenyum, tak berkata apa-apa. Malam itu kami makan dalam diam. Kebisuan yang terasa mencekam. Tak biasanya dia sehening ini. Anak lelaki kami satu-satunya sedang mengikuti acara perkemahan di sekolah. Minggu siang dia baru akan pulang. Kuperhatikan dia mengunyah makanan pelan. Wajahnya menatap kosong pada makanan yang ada di piring. Aku jadi ragu untuk membuka pembicaraan. Siang tadi, Tari mendesakku lagi untuk segera menikahinya. Hubungan tanpa kejelasan yang telah berlangsung hampir dua tahun itu rupanya tak lagi membuatnya nyaman. Dia mulai bertingkah aneh. Setiap siang selama sebulan ini terus menerus membahas pernikahan. Dia meyakinkanku betapa pernikahanku selama ini tidak bahagia, bahwa istriku telah menjelma menjadi sosok yang membosankan dan rumah telah seperti sarang nyamuk buatku. Dia  juga meyakinkanku bahwa kehidupan tanpa istriku di sampingku akan lebih menyenangkan. Apalagi kalau kami telah menikah nanti. Dia sangat yakin kehidupan kami akan jauh berbeda dari kehidupanku dan istriku sekarang. Tari seorang wanita yang enerjik, ceria, dan berselera humor tinggi. Dia juga punya selera tinggi dalam berpenampilan. Lelaki mana yang tak jatuh hati padanya. Tapi toh Tari malah memilih diriku di antara pria-pria yang mengelilinginya. Lebih memilih pria beristri dengan seorang anak belasan tahun. Dan tentu saja, sebagai lelaki aku bangga. Diinginkan seorang wanita muda yang cantik dan cerdas. Tak semua pria seberuntung aku.
***
Tiba-tiba aku berada di sini, di pusat perbelanjaan sedang memilih sweater dan jaket untukku dan Tari. Tari bersikeras ingin membeli sweater yang senada denganku untuk musim hujan kali ini. katanya, sekali-kali kami harus mengikuti gaya anak muda yang selalu menyerasikan pakaian mereka dengan pasangannya. “Coba lihat yang ini..!”, pekik Tari sambil meraih sweater rajut berwarna coklat muda.   “ini cocok buat kita. Warnanya lembut, sesuai untukku dan untukmu Mas,” katanya dengan senang. “Terserah kamu sajalah”, jawabku singkat. Akhirnya sepasang sweater berwarna coklat muda itu telah berada dalam kantong belanjaan di tangan Tari. Sebetulnya aku tak terlalu suka warna itu. Bagiku coklat lebih mirip warna tanah. Tapi tak apalah, asal Tari senang, aku pun senang. Sore itu aku habiskan untuk berjalan-jalan dengan Tari. Makan dan tentu saja bersenang-senang. Menjelang magrib, kuraih ponselku. “Aneh,” pikirku. “Tak ada sms dari dia.” Biasanya tak terlewat sehari pun dia berkirim pesan padaku. entah itu menanyakan sudah makan atau belum, sekedar menyapa, atau berkata I love you. Tapi hari ini, sama sekali tak ada pesan dari dia.
Niatku untuk mengutarakan keinginan bercerai dengannya tak pernah terlontar. Sementara Tari terus mendesak. Bahkan siang tadi dia sudah memberi ultimatum. Tak boleh lewat dari bulan ini, aku harus sudah mengutarakan keinginanku untuk bercerai. Tari tidak mau mendengar alasan apapun dariku. Aku memang tak lagi merasakan cinta yang menggebu-gebu pada wanitaku itu. Bahkan akhir-akhir ini aku malah yakin kalau aku tak lagi menyintainya seperti dulu. Dia terlalu membosankan sekarang. Tak lagi semenarik dulu. Dia lebih memerhatikan anak kami satu-satunya dibandingkan memanjakanku seperti dulu lagi. Selain itu, dia…ah entahlah, pokoknya aku yakin aku harus berpisah dengannya. Dan pagi ini, sudah kubulatkan tekad. Akan kukatakan niatku itu ketika kami sedang makan pagi di meja makan. Baru saja aku akan membuka mulut, dia sudah mendahuluiku berbicara. “Mas, siang ini aku mau pergi sebentar, ada perlu.” katanya datar. “Mau kemana?”, tanyaku kemudian. “Ke rumah teman.” Dan dia buru-buru menyudahi makan pagi nya. Urung lagi lah niatku untuk mengutarakannya. Kupikir, nanti malam saja aku akan mengutarakannya.
***
Aku tiba di rumah pukul delapan malam. Dia menyambutku dengan senyum di ambang pintu. Membawakan tasku, dan mengatakan bahwa anak lelaki kami sedang belajar kelompok di rumah temannya. Kami makan malam hanya berdua saja. “Aku memasak makanan kesukaanmu mas,” katanya. Dan benar saja, tersaji banyak makanan di meja makan dan makan malam kali itu terasa nikmat sekali.
“Mas, aku tidur duluan, hari ini aku lelah sekali”, katanya sambil berlalu ke arah kamar.
Aku belum beranjak ke tempat tidur. Ada pertandingan bola di TV. Dua jam kemudian aku merasa mengantuk. Aku memutuskan untuk tidur, dan ketika aku akan mematikan lampu duduk di atas meja kerjaku, kulihat sebuah bungkusan berwarna biru. Kudekati, ternyata sebuah kotak besar terbungkus kertas biru muda berkilauan. Di atasnya ada pita berwarna senada. Kuperhatikan. Mungkin itu kado istriku untuk pernikahan temannya. Tapi tiba-tiba pandanganku berhenti sejenak pada sebuah kertas di atas nya. Kubuka, dan kubaca. “Selamat hari ulang tahun pernikahan kita Mas. Tak terasa sudah dua belas tahun. Aku menyintaimu seperti dua belas tahun lalu.”
***
Aku menarik nafas panjang, kemudian kubuka kotak itu. Tiba-tiba nafasku tercekat. Sebuah sweater berwarna abu-abu terlipat manis di sana. Sweater yang kemarin sore aku lihat tergantung di deretan paling atas toko baju ketika aku membeli sweater bersama Tari. Sweater yang sebetulnya lebih kuinginkan daripada sweater coklat muda yang dibeli tari. Aku terduduk lemas. Kupandangi sweater itu, kemudian memandangi wajah istriku yang terlelap ditempat tidur. Dia memilh sweater dengan warna yang sama seperti keinginanku. Dia  memilih warna abu-abu, sama denganku. Dan sesaat, aku tersadar, apa alasanku menyintai wanita ini…
***



Pojok Kamar
September, 2006

Kamis, 09 April 2015

Mimpi

Oleh : Noer Milansyah

Hari ini yu Lasmi sedang berbahagia. Pasalnya, tadi malam dia bermimpi kalau ayah dari Tio anak semata wayangnya adalah Vino G. Bastian. Itu lho, pemain film dan sinetron yang ganteng itu.
“Nak, tadi malam ibu mimpi bagus, semoga saja pertanda baik.” Senyumnya.
“Mimpi apa bu?”
“Alahhh..kau tak perlu tahu, pokoknya ini mimpi bagus.”
Tio yang sedang bermain PS di depan televisi hanya mengangkat bahu.
Beberapa saat kemudian ketika dia dan para tetangga sedang mengerubungi tukang sayur seperti lalat mengerubungi makanan, cerita tentang mimpi itu pun kembali bergulir.
“Wah..beruntung ya yu Lasmi ini. Jarang-jarang lho didatangi artis seperti itu”
“Saya juga mau dong mimpi bertemu artis”
“Alahhh…itu kan cuma mimpi”
“Eh, mimpi juga bisa jadi pertanda lho…”
Begitu kira-kira tanggapan ibu-ibu komplek itu.
Mang Ujang tukang sayur langganan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Mimpi aja kok ribut,” gerutunya dalam hati.
***
Tapi rupanya benar yang dikatan orang, bahwa mimpi bisa memacu semangat seseorang sampai ke tingkat paling ekstrem. (setidaknya itu yang dibaca yu Lasmi di majalah wanita yang ada di rumah bu RT beberapa waktu lalu). Efek dari mimpi itu sungguh luar biasa, bisa bertahan sampai berhari-hari. Pagi ini pun sama, padahal mimpi itu terjadi malam jumat dua hari sebelumnya.
 Setidaknya mimpi itu mampu mengusir sedikit rasa kecewa dan amarah yang ada di dadanya. Mampu mewujudkan khayalan-khayalannya akan seorang pria bak pangeran yang datang mengisi hari-hari sepi nya setelah suaminya..atau lebih tepatnya mantan suaminya yang brengsek itu minggat bersama perempuan penjaga warnet di dekat pasar itu. Hari-hari yu Lasmi selama ini dihabiskannya hanya untuk mengutuki kedua orang brengsek itu. Anaknya, Tio..yang baru kelas empat SD itu sepertinya jauh lebih bisa menerima kehilangan ayahnya. Dia tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa dari usianya. Beberapa kali ketika dia mendapati ibu nya sedang melamun atau menangis diam-diam, dia akan berkata, “Sudahlah Ma..Papa jangan diingat-ingat lagi.” Kalau sudah begitu, Yu lasmi hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala anaknya itu.
Di lain waktu, dia akan mengumpulkan semua fotonya dengan suaminya, dimasukannya ke dalam kotak besar, kemudian dibawa ke halaman belakang dan dia bersiap-siap mengambil korek api. Tapi belum lagi korek api itu menyala, bayang-bayang kenangan dari foto-foto itu kembali menari-nari di pelupuk matanya. Korek api itu pun padam sebelum dinyalakan. Akhirnya, urunglah niatnya membakar foto-foto itu.
Bagi yu Lasmi, kenangan lebih mahal dari sebongkah emas sekalipun. Begitu pula kenangan dengan suaminya. Lelaki itu memang brengsek, meninggalkannya dengan anak yang baru berusia lima tahun. Dia pergi. Tanpa berkata apa-apa, tanpa meninggalkan apa-apa. Ditambah, kepergiannya dengan cara yang begitu menyakitkan. Lari bersama perempuan lain. Mungkin, rasanya tidak akan sesakit itu jikalau suaminya mati tertabrak truk barangkali, atau mati terjatuh dari atap genting rumahnya mungkin. Dan sungguh, kadang-kadang yu Lasmi berharap suaminya itu mati saja. Mati ditelan ular raksasa hidup-hidup. Kalau sudah sampai pada pikiran seperti itu, akan dibantingnya segala benda yang ada di dapur. Entah suaminya, entah bayang-bayang ular itu yang membuat kepala nya sakit seakan ditusuk ribuan bambu runcing. Yang kasihan anak semata wayangnya. Dia akan berteriak-teriak sambil menangis setiap kali mendapati ibunya berlaku seperti itu. Dan akan ramailah rumah di ujung komplek itu oleh para tetangga. Ada yang menenangkan, ada yang menasehati, ada yang menghibur, malah tidak sedikit yang hanya bisa mencibir atau sekedar mengasihani nasib perempuan itu. Bu RT yang otaknya sedikit lebih berisi dari para tetangga yang kebanyakan hanya bisa mengomentari itu akan cepat-cepat meraih Tio, diambilnya Tio ke rumahnya, lalu disuruhnya bermain dengan anak-anaknya. Sementara suaminya akan meminta para tetangga bubar yang kemudian akan disambut dengan gerutuan ibu-ibu yang memang senang bergosip. Dianggapnya pak RT telah menghalang-halangi langkah mereka mencari berita seperti layaknya wartawan yang diseret dari rumah pejabat korup oleh para pengawalnya.
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari menyedihkan buat Tio. Anak lelaki berusia lima tahun yang telah ditinggalkan oleh ayahnya yang gila perempuan, dan harus hidup dengan perempuan setengah gila bernama ibu. Bu RT lah yang paling peduli pada nasib kedua anak beranak itu. Diajaknya yu Lasmi yang saat itu tidak memiliki pekerjaan untuk ikut berjulan pakaian wanita bersamanya. Mula nya yu Lasmi melakoninya dengan setengah hati. Jangankan berjualan, untuk berpikir bahwa dia masih hidup pun rasanya enggan. Tapi lagi-lagi Bu RT akan mengingatkan, “ingat yu..kau boleh saja mati, tapi anakmu itu harus hidup!” Dan ingatan akan anaknya itulah yang akhirnya membut yu Lasmi mau sedikit berpikir waras. Ditekuninya kegiatan barunya sebagai penjual pakaian. Mulanya dia mendapatkan upah dari pakaian yang berhasil dia jual. Hanya sedikit, tidak seberapa. Tapi cukuplah kegiatan itu membuatnya merasa hidup. Bu RT pun tahu penghasilannya tidak akan cukup walau sekedar untuk membeli beras sekalipun. Akan tetapi, menjualkan pakaian itu hanyalah caranya saja untuk membuat perempuan setengah  gila itu kembali waras.
***
Memang telah hampir lima tahun kejadian itu berlalu, dan setelah hampir lima tahun itu, baru kali ini Tio melihat ibunya tersenyum setiap hari. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena mimpinya malam jumat lalu. Mimpi Vino G. Bastian menjadi ayah dari Tio. Entah bagaimana alurnya mimpi itu sehingga mampu membuat yu Lasmi yang selama lima tahun bersedih itu tiba-tiba jadi tersenyum. Tak ada yang tahu, hanya yu Lasmi sendiri yang tahu.
Pagi itu yu Lasmi berdandan rapi sekali. Dipakainya gaun biru muda bermotif bunga  yang serasi dengan kulitnya yang putih. Sambil bersenandung, dia melangkah keluar kamar. Tio anaknya sudah berangkat sekolah pagi sekali. Hari itu Yu Lasmi sengaja meliburkan diri berjualan pakaian di pasar yang dilakoninya sehari-hari. Memang, rizki untuk orang yang mau mencariya itu selalu ada. Dan Tuhan pun membuka jalan  untuk perempuan itu. Dua tahun lalu, ada seorang pedagang di pasar yang menjual murah lapaknya karena hendak pulang kampung. Akhirnya, lapak pakaian itu pun dibeli oleh Bu RT, dimintanyalah yu Lasmi untuk menunggui lapak itu dari pagi hingga malam. Lama kelamaan, karena keuletan yu Lasmi  berjualan, lapak itu pun tambah ramai, bu RT senang, dan menjanjikan bagi hasil separuh-separuh untuk keuntungan lapak itu. Sampai sekarang, usaha itulah yang menopang kehidupan yu Lasmi dan putranya.
Yu Lasmi bergegas meninggalkan rumah. Roman mukanya yang cerah mengundang banyak tanya para tetangga.
“Berangkat ke pasar yu?” Sapa Bu Susi tetangga depan rumahnya.
“Wah, yu hari ini ayu sekali,” teriak Mbok karmi yang membuka warung di dekat pos ronda.
“Yu Lasmi lagi senang rupanya. Mau belanja ke mall ya yu?” Dewi anak Mbok Karmi ikut menimpali.
Yu Lasmi hanya senyum-senyum saja mendengar pertanyaan mereka. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum sambil terus berjalan. Dan walau pun orang-orang dilanda keheranan yang luar biasa sangat, tapi keheranan mereka terpaksa dipuaskan hanya dengan senyuman yu Lasmi. Sedangkan yu Lasmi, setelah keluar dari komplek tempat tinggalnya, dia kemudian berbelok kearah kanan. Menyetop bajaj yang lewat, dan berkata,
“ke mall di dekat stasiun ya Bang.”
Tanpa banyak bicara, sopir bajaj pun melarikan bajajnya dengan gesit di tengah kemacetan yang tampak sudah mulai mengular.
Di depan sebuah mall yang besar, yu Lasmi turun. Sejenak pandangannya ditujukan pada tulisan besar-besar di mall itu. Tidak salah lagi, itu adalah mall yang ada di dalam mimpinya. Dengan tersenyum lebar, yu Lasmi memasuki mall itu. Hatinya berbunga-bunga, dan dia pun telah mengenakan gaun bebunga-bunga sesuai anjuran Ki Kusumo. Bahkan, orang pintar di kampung sebelah itu pun telah memberikan dia pegangan berupa sekantong kecil bunga tujuh rupa yang dibungkus dengan kain putih, dan benda itu sekarang terselip di dompetnya. Menurut Ki Kusumo, mimpinya pada jumat malam yang lalu itu adalah pertanda bagus. Karena bertepatan dengan jumat pon dan berada pada bulan yang bagus. Yu Lasmi pun semakin yakin, dan tambah bersemangat ketika ki Kusumo mengatakan padanya bahwa dia akan bertemu dengan seorang pria yang sangat penting dalam hidupnya dan Tio.
Yu Lasmi terus berjalan, berkeliling berputar-putar, sebetulnya tak terlalu tahu hendak kemana. Niatkan saja jalan-jalan. Begitu kata ki Kusumo. Dan hampir separuh dari mall itu telah diputarinya dalam waktu satu jam. Bebagai toko dia masuki, semua iklan dia lihat, semua pertunjukan dia sempatkan saksikan. Sampai tak terasa perutnya keroncongan minta diisi. Dia pun mampir ke sebuah restoran cepat saji. Memesan seporsi nasi dan ayam goreng, lalu duduk di pojok ruangan. Yu Lasmi sedang khusyuk menyantap makannannya ketika tiba-tiba seseorang menyenggol meja nya dari pinggir. “oh maaf,” lelaki itu tergesa meminta maaf. Yu Lasmi menolah, dan mendadak, mukanya pucat pasi. Pasti dia melihat hantu. Lelaki di hadapannya tak kalah kaget. Wajahnya tiba-tiba kaku. Sementara seorang wanita lain sedang memandang mereka berdua. Seorang anak perempuan kecil, menarik-narik ujung kemeja lelaki itu. “Papa cepat..Ita udah laper..”
***
“Ki Kusumo benar-benar orang sakti.” Gumam uu Lasmi. Tio yang sedang menonton TV hanya menoleh sebentar. “Dia tahu aku akan bertemu lelaki itu.” sambung Yu lasmi.  “Siapa Ma..?” Tanya Tio. yu Lasmi tak menghiraukan pertanyaan Tio. Dia bangkit dari kursi, berjalan ke arah kamar, dan mengambil kotak besar yang ada di lemari paling bawah. Tio yang melihat ibunya membawa kotak itu keluar kamar, tiba-tiba meloncat dari kursinya. Jantungnya berdetak cepat. Dia sudah hapal benar apa yang akan terjadi apabila ibunya telah mengeluarkan kotak itu. “Tunggu Ma..!” Tio mengejar ibu nya ke halaman belakang. Mendadak bayangan ibunya menjerit-jerik dan berteriak menari-nari di pelupuk matanya. Mengingat itu nafasnya mulai tersengal. Tio tak ingin ibunya yang belakangan ini telah baik-baik saja, kembali menjadi ibu yang seperti dulu. Tapi sesampainya di pintu belakang, mendadak langkah Tio terhenti. Semua kata-kata yang sudah sampai di tenggorokan urung dia keluarkan. Dia melihat api berkobar-kobar di dalam sebuah drum sampah. Perlahan,  jantungnya kembali ke keadaan normal, nafasnya tak lagi tersengal, dan tiba-tiba sebuah senyuman tersungging dari bibirnya. Dia senang, kini, kotak sialan itu tak akan lagi menjadi mimpi buruk baginya.
***

Sudut  Jendela,
September, 2013

Gerhana*

Oleh : Noer Milansyah

Bulan bulat penuh mengintip dari balik rumpun bambu. Tersenyum ceria pada seorang wanita yang sedang berjalan tergesa menembus gelapnya malam. Cahaya keemasan menyelinap melewati pucuk-pucuk bambu yang sesekali bergoyang tertiup angin malam. Sepintas, pucuk-pucuk bambu itu terlihat bagai jemari denawa yang hendak mencengkram purnama dengan tangan kekarnya. Menculiknya seperti Rahwana yang mengambil Sinta dari tangan Rama, kemudian menyembunyikannya di Asoka. Bukankah begitu menurut cerita? Kisah yang jadi simbol cinta sepanjang masa. Rama yang menyelamatkan Sinta, dan Sinta yang tetap setia menunggu Rama. Cerita yang sebetulnya tak terlalu disukainya. Dia sama sekali tak melihat romantisme dari cerita itu. Kenapa harus selalu perempuan yang dituntut untuk setia? Kalau Rama menyintai Sinta, tentu tidak akan pernah ada ujian kesucian yang membuat Sinta menjatuhkan diri ke dalam kobaran api. Bukankah cinta seharusya memercayai dan mengabdi? Bukannya mencurigai dan menuntut untuk memberi bukti kesetiaan cinta. Baginya, kisah itu hanyalah salah satu dari kisah - Kisah yang lagi-lagi menempatkan lelaki menjadi makhluk yang semena-mena. Sinta yang diculik Rahwana bukan atas keinginannya, ditawan di Alengka dan dengan setia menunggu suaminya Rama, setelah bertemu justru malah harus menjalani ujian kesucian. Ujian kesucian  yang sebetulnya hanya menunjukkan dua hal. Pertama, Rama tidak bisa menerima Sinta yang tidak suci lagi karena diculik Rahwana. Kedua, Rama hanya menilai Sinta dari kesucian fisik yang kasat mata. Kenapa perempuan selalu dinilai dari hal-hal semacam itu? Kenapa penderitaan Sinta karena penculikan Rahwana harus bertambah pula dengan sikap suaminya Rama yang hanya mengurusi perihal kesucian? Seperti itulah yang dipikirkan wanita itu. Baginya, semua lelaki berjenis sama. Tidak peduli dia raja atau rakyat jelata, beragama tidak beragama..semuanya sama. Hanya memandang perempuan sebagai makhluk kedua.   
Malam terus beranjak. Dingin. Sedingin hati wanita itu. Langkahnya cepat, pikirannya berkelana pada masa-masa yang telah silam. Menyambangi kehidupan demi kehidupan yang telah dilewatinya. Baginya, hidup adalah perjalanan menyeberangi sungai yang begitu lebar dan dalam. Melawan arus, dan menaklukan batu-batu terjal dan curam. Sementara, jembatan untuk dia menyeberang, hanyalah sebatang bambu keropos yang licin. Kadang, dia berpikir, apakah perjalanannya harus dia tuntaskan sampai disini, sebelum menginjakkan kaki di batang bambu dan mulai meniti melintasi sungai kehidupan yang terasa teramat gelap. Seperti gerhana. Begitu dia bertanya setiap hari pada dirinya.
Terdengar oleh wanita itu suara ibunya dahulu yang selalu mengingatkan untuk berhati-hati menyeberang, berhati-hati meniti jembatan licin supaya tidak menjerumuskannya ke dalam jurang yang dalam dan terjal. Suara ibunya lantang memecah keheningan berbaur dengan deru arus sungai yang setiap malam terdengar dari balik gubuknya di bantaran sungai itu.
“Rin, lelaki adalah makhluk halus yang bisa merasuk ke tubuhmu, membuatmu kesurupan dan gila.” Begitu berkali-kali ibunya berkata kepadanya.
“setelah kamu menjadi gila, jangan harap dia akan berbaik hati membuatmu kembali waras,” Sambungnya.
“Jangan sekali-kali mendekati pria. Kalau perlu, pasang mantra penolak bala di depan pintu kamarmu,” kata-kata itu diucapkan ibunya dengan sorot mata tajam.
***
Wanita itu berjalan memecah kegelapan. Rambutnya yang terurai tertiup semilir angin malam. Purnama masih setia menemani. Semilir angin musim kemarau seakan mematahkan dahan-dahan kegelisahan di hatinya. Langkahnya tersendat-sendat. Sempat terpikir untuk berbalik arah. Tapi kemudian dia mempercepatnya kembali. Kenapa harus kembali? bukankah tadi sebelum berangkat hatinya telah diliputi tekad yang tidak bisa digoyahkan lagi? Sudah dengan penuh keyakinan akan menemui Mak Ijah. Mengingat itu, langkahnya semakin cepat. Melintasi pematang sawah, kebun-kebun palawija dan singkong, dan akhirnya sampai ke sebuah dusun yang dari tempatnya berdiri mulai terlihat atap-atap rumah berjejer. Dia mengatur nafasnya yang tersengal, diusapnya keringat di keningnya. Kemudian dengan perlahan,  menuju ke satu rumah yang dari kejauhan terlihat bercahaya. Bulan membuat bayang-bayang besar di tanah. Bayangan batang-batang pohon dan daun-daun seperti lukisan hitam-putih di atas kanvas. Di sebelah timur tampak hamparan sawah yang keemasan ditimpa cahaya bulan. Lambaian daun pohon pisang dan kelapa  seperti seseorang yang merindukan kekasihnya. Begitu pilu.  Wanita itu mengingat masa-masa kecilnya, bermain dan berlari di pematang sawah, membantu ibunya memanen padi, dan duduk di belakang sepeda ayahnya sepulang dari sekolah, atau mandi bersama kawan-kawannya di sungai. Kenangan yang indah. Sampai suatu hari, pada usianya yang kedua belas, ketika purnama membentuk bayang-bayang besar di halaman rumahnya, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ibunya menangis meraung-raung di sudut kamar, dan itulah saat terakhir dia melihat ayahnya. Kata nenek, ayah diculik genderuwo karena terlalu sering pulang larut malam. Beberapa tahun kemudian, aku baru tahu bahwa genderuwo itu ternyata bisa berparas cantik juga.
***
Purnama semakin bersinar terang. Sementara lampu lima watt di kamar mak Ijah tidak mampu mengganti gerhana di hati wanita itu. Bau anyir darah, wangi kemenyan, perih di antara kedua kakinya, dan sakit di perut serta di hatinya. Semua bersekutu membuat bayang-bayang gelap yang menyelimuti kepalanya. Kemudian menjelma sebentuk makhluk mengerikan yang bahkan tidak mempunyai mata. Wanita itu ingin menjerit, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Makhluk itu semakin mendekat, merasuk ke kepalanya, ke jantungnya, ke hatinya, ke aliran darahnya..dan tiba-tiba, dia tidak ingat apa-apa. Benar kata ibunya, dia telah menjadi gila.
***
Bulat bulat penuh menggantung di angkasa. Tersenyum pada gemerlap kota di tengah bulan Agustus yang cerah. Keramaian dan keceriaan menjelang peringatan kemerdekaan. Semarak taman kota yang tampak ceria. Air mancur ditengah taman tampak berpendar-pendar tertimpa cahaya lampu. Seorang wanita terduduk di bawah pohon akasia. Telah ribuan hari semenjak terakhir kali dia melihat purnama, juga di taman itu. Purnama yang tersenyum kepada mereka berdua…dia dan lelaki itu. Sekarang dia hanya seorang diri. Sedang menatap purnama yang menggantung indah di angkasa sambil mengelus perutnya yang rata. Matanya kosong menatap langit. Dilihatnya nun jauh di sana, di permukaan bulan yang bundar itu, ada seorang anak lelaki kecil yang sedang berlari-lari, ditunggui oleh seorang nenek berambut putih. Mungkin itu Nini Anteh**. Seperti yang sering didongengkan neneknya sewaktu dia kecil.  Dan sekarang, Nini Anteh sedang mengajak bermain anak laki-lakinya. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya. Mengejar bulan yang tidak mau berhenti sambil terus berteriak.
“Tunggu ibu Nak, tunggu ibu…” teriaknya sambil beranjak dan berlari meninggalkan tempat duduknya.
Bocah lelaki kecil di bulan itu terus berlari dan tertawa. Rambutnya yang lurus seperti miliknya berkilauan ditimpa cahaya. Perempuan itu terus berlari. Tapi tiba-tiba, bocah lelaki itu berhenti berlari, dia menoleh dan melambaikan tangan. Perempuan itu bahagia bukan kepalang. Seketika dia menghentikan langkahnya. Dia akan naik ke langit, terbang ke bulan, dan menggendong anak lelakinya.
Tapi tiba-tiba, terdengar suara orang-orang berteriak,
“tabrak lari..!”
“orang gila.”
“perempuan tertabrak”
“orang gila tertabrak.”
“panggil polisi!”
***
Tapi wanita itu tak mendengar apa-apa. Dia sedang terbang ke bulan. Akan menggendong anak lelakinya yang lima tahun lalu dibawa makhluk mengerikan tak bermata di rumah Mak Ijah. Wanita itu terus terbang, semakin jauh meninggalkan kerumunan orang-orang. Dia tidak peduli pada polisi yang kemudian datang, pada ambulance yang meraung-raung kencang, pada angin malam, pada dingin dan kelam..juga pada lelaki yang seharusnya dipanggil ayah oleh anak lelakinya. Dia tak peduli, dia hanya ingin terbang, menuju bulan, menuju anak lelakinya. Dia hanya ingin menggendongnya….
                                                                      ***

Ket :
* Gerhana : ada cerpen dengan judul sama dalam bahasa sunda, Samagaha, di dalamnya ada bercerita tentang Nini Anteh.
** Nini Anteh:  adalah salah satu dongeng Sunda, yang merupakan sastra lisan yang sering diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya tentang seorang nenek yang tiada henti-hentinya menenun di bulan. Pada kenyataannya yang disebut Nini Anteh itu adalah bayangan hitam atau motif yang nampak pada permukaan bulan apabila kita memandangnya. Bayangan itu menurut sebagian orang mirip dengan seorang nenek. Nenek itu disebut Nini Anteh karena  ia kelihatan sedang memintal benang kantih. Selama menenun, Nini Anteh selalu ditemani oleh seekor kucing kesayangannya yang bernama Candramawat. Kain hasil tenunannya itu bila telah selesai akan diberikan kepada aki yang sedang menyadap di bumi.


Sudut Jendela
Ramadhan, 2013

Kamis, 05 Februari 2015

Menjelang Siang di Pematang

Oleh : Noer Milansyah

Berjalan seperti biasa di pematang sawah, bertelanjang kaki, bersentuhan dengan embun sisa semalam, berkenalan dengan keong-keong yang baru bangun, atau sekedar menyapa padi-padi yang belum akan menguning. Itulah pagi ku setiap hari. Menghirup udara segar sebanyak-banyaknya, memanjakan paru-paru yang biasanya dipenuhi asap rokok.

Semalam Wak Marja berkata kepadaku kalau sawah milik kami di ujung desa itu sudah hampir seminggu kekurangan air. Bukan karena sekarang musim kemarau atau memang sedang susah air, tapi karena air selalu mengalir lebih banyak ke sawah-sawah milik Juragan Arga. Iparnya Pak Lurah yang memiliki hampir seluruh sawah di desa ini. sawah peninggalan orang tuaku dan Uwakku ku sendiri pun hanya tiga kotakan kecil saja. Tetapi kami sangat bergantung pada sawah-sawah itu. Sistem pengairan sawah di desa kami menggunakan sistem buka tutup seperti biasanya. Air akan dialirkan secara bergiliran ke sawah-sawah di desa kami. Sumber air utamanya yaitu dari sungai desa kami. Dan setiap minggu warga akan  bergotong royong memastikan aliran air itu tidak terhambat.

Pagi ini pun tujuanku sama, akan memastikan aliran air ke sawah kami mengalir dengan lancar. Ketika sampai di petakan sawah milih Mang Jatma, aku berhenti sejenak. Kuperhatikan Mang Jatma beserta beberapa warga lainnya sedang berkumpul. Sepertinya sedang membincangkan sesuatu yang serius. Terlihat dari gerak tubuh dan mimik muka mereka.

“Itu dia Surya baru datang,” kata salah seorang dari mereka. Aku berjalan mendekat. “Ada apa Mang?”, tanyaku pada orang yang memanggil namaku tadi. “ini Sur, masa dari semalam sawah-sawah kita tidak kebagian air sama sekali? Sawah Uwak mu juga kering Sur. Kau belum melihatnya ya?”, Mang jatma menyambung suara. “Yang betul Mang?” jawabku cukup kaget dengan berita itu.” Awalnya kukira yang dimaksud Wak Marja dengan kekurangan air itu hanya aliran airnya saja yang kecil. Bukan tidak ada air sama sekali. “kita harus laporkan ke pak lurah,” kata salah seorang warga. “Dari dulu juga kita laporan terus, tapi mana hasilnya?” Yang lain terdiam. “Lurah Sasmita dan Juragn Arga itu kan setali tiga uang.” Sambung yang lain. “Langsung lapor pada pak camat saja,” celetuk seseorang. “Mana bisa begitu, nanti Pak Camat malah menuding kita tidak tahu  birokrasi, sebelum camat itu kan  ada perangkat desa lainnya. Kita harus ikut prosedur, lapor pak RT dulu, lalu nanti terserah pak RT mau lapor langsung ke Pak Lurah atau Pak Camat.” Kata Mang Jatma. “Ya tentu saja ke  pak lurah, bisa mengamuk lurah kita kalau tahu dilangkahi seperti itu. Seperti tidak kenal Lurah Sasmita saja kau ini.” sambung yang lainnya. “Lantas kita harus bagaimana sekarang?”,orang yang menyapaku tadi menarik nafas panjang.
****

Aku termenung. Di jaman yang telah modern seperti ini, ternyata di desa yang jauh dari keramaian kota ini masih ada praktik-praktik seperti ini. Praktik yang hanya kudegar dari cerita orang-orang tua jaman dulu tentang tuan tanah yang semena-mena. Atau hanya kulihat dari film-film india atau film jaman dulu saja. Ternyata praktik seperti itu tejadi pula di sini. Di desaku. Tak seorang pun yang berani menentang juragan Arga. Sangat jelas sekali terlihat kuasa uang sangat berperan di sini. Juragan Arga mampu membayar siapa pun yang bisa memenuhi keinginannya. Termasuk membelokkan aliran air ke sawah miliknya sendiri. Dan kalau pun urusan ini dibawa sampai ke kecamatan, maka akan selesailah urusan itu tanpa penyelesaian yang jelas. Lagi-lagi itu karena pengaruh uang. Dan warga yang tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menerima nasib hanya dengan  kebagian air dalam jumlah yang sedikit. Belum lagi, nanti hasil panen mereka harus dijual ke juragan Arga dengan harga yang sudah ditetapkan. Warga tidak bisa menawar, karena akses untuk pembeli dari luar desa ditutup oleh pak lurah. Pak lurah menghimbau seluruh warga supaya menjual hasil-hasil kebun mereka hanya kepada juragan Arga, dengan alasan, warga tidak perlu mengeluarkan ongkos tambahan untuk membawa hasil panen mereka keluar desa yang tentu saja akan memakan biaya yang banyak.

Sekali lagi aku hanya bisa termenung. Aku yang lulusan perguruan tinggi dan seorang sarjana pun tak bisa berbuat banyak. Ini desa terpencil, jauh dari segala macam fasilitas. Untuk ke kota kecamatan pun harus menempuh perjalann panjang dengan medan yang sukar ditaklukkan.

Siang itu, kami sepakat, bahwa nanti malam akan mengadakan rapat di rumah Wak Marja mengenai hal ini. Dan sore ini, aku sedang duduk di teras rumah bersama Uwakku yang telah sepuh itu.

“Sur, hidup itu kadang tidak selalu sesuai harapan kita. Tidak seharmonis hubungan air dengan tanah, dengan udara, dengan tumbuhan dan batu-batuan. Manusia itu memiliki hubungan yang rumit. Kadang tidak dapat dipahami secara nalar. Begitulah…” katanya sambil menghisap rokok tembakau yang dilinting dengan menggunakan daun kawung itu dalam-dalam. Aku pun ikut mengambil satu lintingan, dan menyulutnya dengan geretan tua miliki Uwak. “Wak, tadi siang warga mengeluhkan kelakuan juragan Arga lagi”. Uwak hanya menerawang. “Dulu sekali, waktu kau masih berusia sekitar tiga tahunan, anak lelaki juragan Arga yang sekarang kuliah di kota itu lahir sebagai kebanggaan keluarga. Perayaannya pun tiga hari-tiga malam. Juragan Arga nanggap wayang golek. Dalangnya dalang kondang dari Bandung. Juragan Arga percaya, menanggap wayang akan memberikan berkah pada hasil pertaniannya. Semenjak itu, uang juragan Arga semakin banyak. Mungkin pengaruh kelahiran anak yang sangat dinanti-nantikannya itu. Sawahnya semakin bertambah, dan adik perempuannya kemudian dinikahkan dengan lurah yang sekarang. Lurah yang sekarang itu tak tergantikan sejak dua puluh tahun lalu Sur.. Lurah Sasmita itu bukan hanya iparnya juragan Arga, tapi juga masih ada hubungan pertalian darah dengannya. Walau pun sangat jauh. Dan juragan Arga sengaja menjadikannya lurah karena saudar-saudaranya yang lain tidak ada yang lelaki. Maka pernikahan dengan adiknyalah itu yang kata orang untuk menyiasati supaya juragan Arga tetap berkuasa tanpa harus menjadi lurah.” Wak Marja menjelaskan sambil tetap menghisap rokoknya. “kenapa tak dilakukan pemilihan ulang?” Tanyaku. “Sudah sering, tapi yang menang tetap saja lurah yang sekarang.” Uwak menghela nafas panjang.“Apakah pemilihannya adil?” aku masih tak mengerti.“Sangat adil. Warga sendiri yang memilih,” Sambungnya kembali.“Kenapa warga memilihnya?”, aku masih tak paham. “Karena dia calon tunggal. Pernah dua kali ada yang mencalonkan beberapa orang. Tetapi entah dengan cara apa, calon-calon yang lain itu beserta para pendukungnya, selalu mendapat hambatan. Pernah pak guru Solihin didesak warga untuk mencalonkan diri, tetapi keesokan harinya, sawah Pak Solihin yang dua tiga hari lagi akan dipanen itu rusak berat. Entah siapa yang merusaknya. Sampai sekarang tak terungkap. Tapi warga sudah sama-sama tahu, itulah akibatnya kalau menentang Lurah Sasmita dan Juragan Arga. Konon, kata kakek buyutmu, desa ini turun-temurun dikuasai oleh keluarga juragan Arga. Dan kudengar, anak lelakinya yang kuliah di kota itu, sedang dipersiapkannya pula untuk menjadi Lurah menggantikan Lurah yang sekarang,” Wak Marja mengakhiri penjelasannya sambil menggelar tikar untuk kumpulan warga malam ini.

Aku masih tak beranjak, kuraih kembali lintingan daun kawung dan kuhisap dalam-dalam. Aku tak habis pikir, kenapa masih ada hal-hal semacam ini di zaman yang sudah serba canggih ini. Tapi mungkin betul kata Uwak, hubungan antar manusia itu terampau rumit untuk dipahami. Ataukah hanya pemikiran sebagian orang saja yang rumit? Setahuku, warga disini hanya memiliki keinginan sederhana, ingin sawah-sawahnya mendapat aliran air yang cukup. Sederhana. Tapi ah..biarlah nanti orang-orang tua di desa ini membahasnya bersama Wak Marja. Aku tak terlalu paham. Tak mengerti pula ambisi juragan Arga untuk terus beruasa di desa ini. yang kutahu..anak nya yang kata Uwak dipersiapkan untuk menjadi lurah itu, sekarng pasti sedang membolos kuliah dan malah nongkrong di night club bersama teman-temannya. Bahkan aku tahu kuliahnya tak lulus dua semester. Kerjanya hanya menghambur-hamburkan uang yang dikirim ayahnya dari hasil sawah dan kebun yang meyusahkan wargan disini. Aku tahu, karena aku tinggal tak jauh dari kos san nya. teman-temannya disana mengenalnya sebagai anak kampung dengan bapak yang kaya. Kadang teman-temannya kurasa hanya memanfaatkan uangnya saja. sangat ironis, di sini ayahnya mati-matian mendapatkan hasil panen yang melimpah, bahkan dengan cara mencurangi warga hanya untuk membiayai seorang anak lelaki kebanggaannya yang sekarang mungkin sedang teler di night club. Aku hanya bisa tersenyum sinis. Kubuang puntung daun kawung, dan segera beranjak ke dalam. Akan kubantu Uwak menyiapkan kopi untuk pertemuan malam ini.

                                                                                                                                                                                               
Sudut Jendela
28-11-2014
08:44

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.