Jumat, 01 Juli 2016

Perjalananku Mencari Rindu

Hanya ingatan..yang menjarakiku dengan waktu. Jarak itu mengingatkanku pada malam-malam yang menepi di ujung jendela. Memberiku jeda yang terlampau lama.
Dimanakah kau berada?
Di kesunyian bernama entah, ataukah di keheningan yang kuhirup bersama desahan nafas?
Dan bila aku telah kehilangan tanya, rindu hanyalah perjalananku mencari tanda.

Sudut Jendela
20 Juni 2015

Rendezvous

Aku masih ingat, pada ramadhan tahun lalu, suatu malam aku terduduk di teras sebuah masjid. Menatap langit yang megah dengan mataku yang itu-itu saja. Mata yang sama yang menatap hidup juga dengan cara yang sama. Malam itu, bulan menggantung jenaka. Setengah purnama, dan tersenyum pula. Dan aku mulai bertanya-tanya, "Ramadhan ini untuk siapa?"

Aku masih menatap langit yang sama dengan mata yang masih itu-itu saja, ketika tanya yang sama lagi-lagi masih tak bisa kujawab dengan kata-kata apapun juga. Hanya bulan yang menggantung jenaka melempar senyum dengan kerling mata padaku. Dia seolah berkata, "Hai manusia, mampuslah karena kau memiliki hati!" Ya..dan aku pun mulai merabai dada dengan jantung yang tak lagi di tempatnya.

Hari ini..aku sedang mengenang ramadhan yang sama. Masih dengan hati yang itu-itu juga. Dan aku mulai merabai dada..yang kurasa..dengan jantung yang lagi-lagi belum kembali ke tempatnya.

"Selamat jadi manusia!" Ujar bulan yang bahkan belum jadi setengah purnama.

Sudut Jendela
04 Juni 2016
16:16

Dunia Kura-Kura

Aku mendapat sebuah buku tebal dengan isi yang tidak bikin bosan dibaca ratusan kali hanya dengan harga tiga ribu rupiah. Cuma tiga ribu rupiah! Aku ingat betul harganya. Dulu aku membelinya di toko buku di sebuah mall dalam tumpukan buku obralan. Ingat juga penjualnya seorang anak muda gondrong berkacamata yang rambutnya dia ikat ke belakang, mirip Uyan di Preman Pensiun. Buku itu pun berpindah tangan hanya dengan modal tiga ribu rupiah. Sungguh perasaanku berbunga-bunga. Sama lah kiranya seperti kau makan di Pizza Hut sekenyang-kenyangnya dan pelayannya bilang, "Bill nya tiga ribu rupiah!" Apa kau tidak akan tercengang? Aku pun berlalu dari toko buku dengan senyum mengembang. Melewati deretan toko-toko baju, tas, sepatu, aksesoris, bahkan kendaraan yang selalu hanya bisa kupandang. Keluar dari mall itu bagai  keluar dari tumpukan jerami. Dan berjalan-jalan ke pasar selalu lebih kusukai. Melihat pedagang sayur, penjual makanan, pedagang ikan, dan asongan. Itu pula yang kulakukan selepas bahagia dengan buku tiga ribu di tangan. Berjalan ke arah pasar , tanpa tujuan. Dan mengenai apa yang  kudapat di pasar itu, akan kueritakan. Aku mendapat sepasang kura-kura cantik berwarna hijau. Setelah  ditawar mati-matian, bukan tega pada penjualnya, tapi karena memang uangku pas pasan, akhirnya sepasang kura-kura beserta kandang dan makanannya untuk sebulan ke depan kubayar dengan harga lima puluh ribu rupiah. Entah kenapa aku membeli kura-kura, mungkin..karena aku selalu merasa mirip kura-kura. Diam dan lamban. Selalu sembunyi di balik cangkang. Dan memandang kura-kura di saat sedang sendirian seperti ini..bisalah membuatku merasa berkawan. Dan betul kiranya demikian. Setiap bangun aku  memandang sepasang kura-kura tersebut dan merasa dunia begitu sejuk. Dunia sepi yang dingin. Dunia yang menjaga kewarasan tetap diam pada tempatnya. Dunia yang berhasil menyelamtkanku dari keinginan menjadi tiada. Ya, dunia kura-kura.

22 Januari 2016

Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Salah satu hal yang menarik dari pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah bahwa menurutnya, anak yang belajar dalam kondisi di bawah paksaan dan hukuman, apabila telah dewasa, mereka tidak akan mampu bekerja kalau tidak dipaksa atau kalau tidak ada perintah. Itulah kenapa Ki Hajar Dewantara tidak mengikuti pola pendidikan barat waktu itu yang memiliki ciri 'perintah', 'hukuman', dan 'ketertiban'. Hukuman yang diberlakukan biasanya untuk mencegah terjadinya perbuatan yang salah pada anak didik, dan biasanya tidak seimbang dengan kesalahan anak. Menurut Ki Hajar Dewantara, model pendekatan pendidikan seperti itu merupakan salah satu bentuk perkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak.
Oleh karenanya, Ki Hajar Dewantara lebih menekankan pendekatan yang bersifat Momong, Among, dan Ngemong. Anak didik dipimpin dan dibimbing untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya, sehingga peran guru adalah sebagai pendamping dan orang yang membantu mengarahkan siswa sesuai dengan perkembangannya. Hal itu selaras dengan tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara sendiri, yaitu menurutnya pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia dalam artian menjadi manusia yang mandiri, yang tidak tergantung kepada orang lain baik lahir maupun batin.

Ramadhan,
26 Juni 2016
07:26

Malam Ketujuh Ramadhan

Malam Ketujuh Ramadhan...
Katanya Tuhan suka yang ganjil,
Maka tak apa mungkin ketika rinduku tak juga kunjung genap.
Bukankah di luar sana bulan juga cuma separuh?

Malam Ketujuh Ramadhan...
Aku mengurung sunyi dalam sangkar ketakpastian,
Merantainya dengan gelang-gelang sepi yang sedingin batu kali.
Sampai suatu hari..mungkin kau akan membukanya kembali.

Malam ketujuh ramadhan...
Kunyalakan kipas angin dan mulai membaca puisi demi puisi,
Bukankah katamu "Suatu hari aku akan menjemputmu?"


Malam Ketujuh Ramadhan
12 Juni 2016
21:32

Kekasih Sunyi

Ada yang tak biasa malam ini,
Sepi menaruh lengannya di ujung keheningan.
Kemudian dia bertanya pada bulan separuh yang tersenyum hambar, "Kemanakah jingga pulang?"
Tak ada jawaban.
Hening...

Lantas sepi mulai berjalan perlahan,
Melangkahkan kaki-kaki kepercayaan yang setengah mati tak ia biarkan pincang.
Kaki itulah yang menopangnya selama di jalanan.
Memercayai setiap doa-doa dan harapan yang meluncur dari ketinggian angan-angan tentang sebuah ketentraman bernama kasih sayang.

Dari kejauhan, terdengar sunyi berujar,
"Aku merinduimu sebanyak tetesan hujan.."

Sudut Jendela
12 Juni 2016
21:46

Kisah Sepenggal Rindu

Yang paling tidak menarik dari sunyi
adalah kau bisa mendengar detak jantungmu sendiri

Dan yang tidak menarik dari mendengar detak jantungmu sendiri adalah
selalu diteriakkannya namamu disana.

Dan yang paling tidak menarik dari mendengar jantung sendiri meneriakkan namamu adalah selalu terasa ngilu bagai diris sembilu.

Karena namamu, berarti RINDU...

Di Keheningan Ramadhan
16 Juni 2016
21:58

Ayah dan Kejujuran

Semasa sekolah dulu dan sering diantar jemput oleh ayah, tak pernah sekali pun saya melihat ayah melanggar peraturan berlalu lintas meski tak ada yang melihat. Ayah lebih memilih memutar jalan yang jaraknya jauh daripada melanggar rambu "Dilarang berbelok" meski tak ada seorang pun yang melihat. Dan karena hal itu, meski ayah tak pernah bilang, "Kamu tidak boleh menyontek ketika ujian!" Seumur hidup saya tak pernah berani menyontek.

Dan sampai sekarang, saya tak pernah bertemu orang lain yang sejujur ayah. Tak seorang pun.

Saya sering merenung ketika mendengar kata "Jujur." Sebetulnya apa makna kata itu bagi manusia? Masih pentingkah kejujuran di jaman seperti sekarang? Masih berhargakah kejujuran di tengah-tengah manusia yang tak menghargainya? Masih perlukah seorang manusia jujur? Lantas, buat siapa dan untuk apa jujur itu?

Dan ketika terlalu banyak manusia yang tak menghargai arti kejujuran, saya selalu ingin menanyakan satu hal, "Apa arti jujur buatmu?"

Sudut Jendela
Ramadhan, 15
2016

Menamai Sunyi

Aku hanya penyendiri yang kecanduan sunyi.
Sehingga sepi kugandrungi seperti pagi pada matahari.
Demikian pula ketika kebisuan lebih memekakkan telinga ketimbang ramai yang terlambat datang, itu pun kusebut puisi.
Dan pada setiap ujung malam yang terdiam,
aku selalu mendengar waktu dan kenangan saling bergumam.

(Sudut Jendela, 010716)

Selasa, 14 Juni 2016

Sepucuk Surat Buatmu

Ketika kutitipkan cinta padamu,
Awan menjelma hujan
Kemudian menjadi sungai-sungai yang mengalirkan harapan
Mengikutimu, entah kemana

Ketika ulat menjadi kepompong dan kemudian
Kupu-kupu cantik pun terbang mengangkasa,
Terbang pulalah semua prasangka
Dan yang tertinggal hanya ketulusan

Ketika kuberikan seuntai rindu padamu,
Turut pula sekerat mimpi warna-warni
Menjadi pelangi sepanjang hari-hariku

Ketika kutitipkan cinta padamu,
Begitu jugakah hatimu?

(Ramadhan, 10th)

Selasa, 17 November 2015

Cerita Subuh





Sekumpulan sunyi bernyanyi padanya di subuh yang sepi.

Mungkin ada yang hilang, mungkin juga ada yang tidak hilang. Ketika bulan sabit masih tergantung di subuh yang sunyi, suara jengkerik yang masih ramai, dan embun yang baru turun, ada hati yang juga sepi. Benarkah cahaya ilahi itu telah benar-benar pergi darinya? Cahaya yang dia butuhkan ketika semuanya tak lagi menjadi seperti semula. Tetapi hatinya tak benar-benar kering. Ada keajaiban yang menyihir kebekuan hatinya kemarin siang. Ketika seorang professor beruban dan berjanggut putih berdiri di depan kelasnya. Professor tua itu mengingatkan dia pada apa yang menjadi awal cita-citanya dahulu. Kata-katanya yang  lembut dan tidak pernah menjudge itu mampu membuat matanya terasa panas dan hatinya melumer. Dia tahu telah berjalan sedemikian jauh dan tertinggal dari rombongan. Dia hanya seorang musafir tak berkawan di tengah padang pasir yang kering dan tandus. Tak tahu arah tujuan, dan hampir mati kehausan. Tiba-tiba, professor tua itu menjelma oase yang memuaskan dahaganya. Dia tak jadi mati kering. Matanya basah oleh ingatan-ingatan tentang kecintaannya pada Tuhan. Tuhan yang dahulu begitu dekat dan dicintainya tanpa syarat. Tuhan yang membuatnya menjadi manusia paling berbahagia di dunia.

Kabut tipis mulai turun di luar kelasnya. Langit biru, bukit hijau, dan semua yang berwarna beberapa menit lalu terlihat dari balik jendela, telah berubah putih semua. Gerimis di kota kecil itu menjelma hujan deras yang menantang suara-suara mereka di dalam kelas. Beberapa orang kawannya tampak antusias menyimak setiap ucapan sang professor. Professor bersuara lantang itu tetap tak bisa dikalahkan oleh hujan. Sampai tiba pada bagian bahwa Allah lah tujuan segala upaya manusia di dunia ini, matanya mendadak basah. Apa sebenarnya tujuan dia di dunia? Apakah hanya sekedar mengejar cita-cita? Apakah hanya untuk mencari cinta? Apakah hanya untuk mencintai dan peduli? Iya, dia hanya mencari hal-hal seperti itu. Dia lupa bahwa hidup tak selamanya akan terus bersamanya. Suatu hari dia akan pergi, akan meninggalkan. Dan kemana dia setelah itu? Apakah dia hanya akan menjadi kabut-kabut tipis yang mudah menghilang, ataukah hanya menjadi mentari yang ketika terbenam juga hilang? Atau jadi angin yang sebentar kemudian terbang? Ataukah jadi air yang pada saat kemarau tak lagi mengalir? Tidak. Semua itu bukanlah keabadian. Semua itu akan berakhir. Ditinggalkan atau meninggalkan. Bukankah seperti itu rumus kehidupan manusia di dunia? Ada, kemudian hilang dan pergi. Atau hilang, kemudian ada, lantas hilang kembali. Tak ada yang selamanya hilang, tak ada yang selamanya ada. Tak ada juga perjalanan yang tanpa akhir. Semua pasti bermula dan berujung. Bukankah manusia itu seorang pejalan yang hebat? Ketika kakinya tak mampu lagi menapak, dia akan berenang, terbang, atau apapun yang mampu membuatnya bergerak. Manusia tak pernah berhenti bergerak. Tak pernah berhenti hidup selama perputaran bumi masih dikehendaki Tuhan. 

Kokok ayam mulai terdengar. Subuh juga akan berlalu meninggalkannya pergi. Awal musim penghujan. Kabut tipis hampir setiap pagi mampir di jendelanya. Membuatnya bisa menuliskan namanya di kaca jendela. Kadang-kadang juga cita-citanya. Atau sesekali surat cinta yang dia kirim untuk kekasih sepi nya. Surat itu kadang berkata, “Aku merindukanmu sebanyak tetesan hujan…”

Kali ini dia tak lagi berkirim surat. Subuhnya dihabiskan di atas hamparan sajadah yang hampir-hampir tak dia kenali lagi. Dingin, asing. Benda itu bahkan terasa janggal di tangannya ketika dia menyentuhnya. Matanya berusaha berkata “Ini aku..!” Dan duduk berlama-lama di atasnya, adalah nostalgia yang menghamparkan sejuta kenangan di hatinya. 

Subuh bernyanyi. Orkestranya adalah sekumpulan sunyi yang tiba-tiba berubah menjadi nada-nada yang indah. Nyanyian itu memenuhi kamarnya. Mengajak menari kepada pintu, jendela, lemari, dan rak-rak buku nya. Ini kah bahagia yang dia cari? Ketika hatinya mampu melihat sedikit cahaya di kegelapan? Ketika dia dapat mengajak subuhnya bernyanyi dan sunyi nya menari? Tidakkah sekarang dunianya menjadi ramai? Tidakkah sekarang dia berkawan? Dia masih belum tahu…

Gerimis semalam meninggalkan basah di jalan, di dahan, di ranting, di genting, juga di hatinya. Langit yang mulai membiru, dan matahari yang kira-kira akan segera membuka matanya, membuat pagi ini terlihat seperti wajah seorang gadis cantik yang baru terbangun dari tidurnya. Bukankah kecantikan itu lebih banyak tertangkap pada sesuatu yang alami, ketika tidak ada sedikitpun kepalsuan yang menutupinya? Dia membuka jendelanya lebar-lebar. Merasakan oksigen memenuhi paru-parunya. Membiarkan angin lembut menyentuh pipinya seperti tangan seorang gadis kecil. Halus dan dingin. Dia melihat sesuatu yang luput dari penglihatannya selama ini. Keindahan! Ya, bahkan semut yang sedang berbaris di dinding pun sekarang tampak begitu indah di matanya. Apakah selama ini matanya buta? Ataukah justru keindahan itu yang tidak ada? Ah, tidak..! Matanya sajalah yang kira-kira tak dapat melihat. Berapa ribu keindahan yang telah dia lewatkan? Berapa juta kenikmatan yang luput dia rasakan? Tiba-tiba dia terhenyak. Banyak. Sudah terlampau banyak. Bukankah matahari juga dia ingkari? Bukankah udara yang dia hirup juga tak pernah diakuinya? Juga aliran darahnya, detak jantungnya…apakah dia mengakui semua itu? Tidak..! Iya, dia selalu menyangkalnya. Menyangkal setiap kenikmatan yang dianugerahkan Tuhan pada hidupnya yang singkat. Dan betapa Tuhan masih teramat baik dengan tak mengambil itu semua darinya, bahkan setelah apa yang dia lakukan pada-Nya. Dia mengkhianati Tuhan! Dan lihat, betapa Tuhan masih merengkuhnya dalam kasih sayang.

Dia menarik nafas panjang, tersenyum pada serombongan semut yang sedang berjalan, dan kemudian berkata hampir tak terdengar, “Selamat pagi matahari..subuh ini aku bertemu kekasihku.”


Sudut Jendela

05:00

08112015



Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.