Minggu, 12 April 2015

Lelaki dan Seruling Bambu

Oleh : Noer Milansyah


“Dia meninggalkanku,” katamu.
Lalu kau pun berlari di pematang sepi.
Berusaha menabuh bebunyian untuk meramaikan sunyimu.
Sampai seseorang datang,  meniupkanmu seruling kedamain.
Kamu begitu terlena dengan suaranya,
Suara paling merdu yang pernah kau dengar.
Setiap hari minggu, dia meniupkan serulingnya untukmu.
Kau akan dengan tak sabar menantinya
di bawah rindang hanjuang tua.
Disana, biasa kalian bertemu.
Dalam bisu, dengan alunan seruling bambu.
Betapa damai hatimu.
Kau bermimpi bisa mendengar suara itu sepanjang hidupmu.
Tapi…suatu hari, tiba-tiba dia menghilang.
Meninggalkan seruling bambunya untukmu.
Dia bilang, ingin menjad kepodang,
Ingin mengepakkan sayap melihat-lihat isi dunia.
Kau pun membisu.
Air matamu tersapu oleh hujan.
Kepodang itu mulai terbang menjauhimu,
Dan seruling bambu…



Ruang sunyi
01092014
17:00

Buntu



Oleh : Noer Milansyah
 

Terjebak dalam lorong waktu
gelap dan pengap.
Tidak sedang memburu atau diburu.
Hanya buntu.
Tak berwaktu.
Kehilangan jam di detak waktu.
Aliran zaman menyeretku dalam pembuluh rindu.
Akankah kutemuiMu?
Bukankah kita begitu dekat?
Sedekat jantung dengan detaknya?
Tetap buntu,
Tak berwaktu.
Aku terhenti dari jalanku.
Aku berputar dalam lorong-lorong berhantu.
Ketakutan yang menyakitkan.
Perih yang mengiris-iris.
Darah bercucuran dari nadi zaman.
Inikah rindu?
Sedang aku tak menemukanMu.
Buntu,
Tak berwaktu.
Inikah zaman batu?
Seperti hatiku yang tak mengenal peradaban.
Menjadi primitive bahkan.
Dan aku,
Hanya buntu.
Di lorong waktu.
                      
                                                                                                                                          10 juni 2014
                                                                                                                                                                10:59

Duka dan Kamu


Bukankah hidup adalah sealamat keriangan
Yang bersusun dengan setumpuk luka dan duka yang terlipat rapi?
Sampai kau campakkan semuanya
Ke dasar yang paling dalam dari lautan dukamu?
Ah, aku tak mengerti!
Kau adalah lautan tanpa tepi.



Ruang sunyi

15012015

Kamis, 09 April 2015

Mimpi

Oleh : Noer Milansyah

Hari ini yu Lasmi sedang berbahagia. Pasalnya, tadi malam dia bermimpi kalau ayah dari Tio anak semata wayangnya adalah Vino G. Bastian. Itu lho, pemain film dan sinetron yang ganteng itu.
“Nak, tadi malam ibu mimpi bagus, semoga saja pertanda baik.” Senyumnya.
“Mimpi apa bu?”
“Alahhh..kau tak perlu tahu, pokoknya ini mimpi bagus.”
Tio yang sedang bermain PS di depan televisi hanya mengangkat bahu.
Beberapa saat kemudian ketika dia dan para tetangga sedang mengerubungi tukang sayur seperti lalat mengerubungi makanan, cerita tentang mimpi itu pun kembali bergulir.
“Wah..beruntung ya yu Lasmi ini. Jarang-jarang lho didatangi artis seperti itu”
“Saya juga mau dong mimpi bertemu artis”
“Alahhh…itu kan cuma mimpi”
“Eh, mimpi juga bisa jadi pertanda lho…”
Begitu kira-kira tanggapan ibu-ibu komplek itu.
Mang Ujang tukang sayur langganan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Mimpi aja kok ribut,” gerutunya dalam hati.
***
Tapi rupanya benar yang dikatan orang, bahwa mimpi bisa memacu semangat seseorang sampai ke tingkat paling ekstrem. (setidaknya itu yang dibaca yu Lasmi di majalah wanita yang ada di rumah bu RT beberapa waktu lalu). Efek dari mimpi itu sungguh luar biasa, bisa bertahan sampai berhari-hari. Pagi ini pun sama, padahal mimpi itu terjadi malam jumat dua hari sebelumnya.
 Setidaknya mimpi itu mampu mengusir sedikit rasa kecewa dan amarah yang ada di dadanya. Mampu mewujudkan khayalan-khayalannya akan seorang pria bak pangeran yang datang mengisi hari-hari sepi nya setelah suaminya..atau lebih tepatnya mantan suaminya yang brengsek itu minggat bersama perempuan penjaga warnet di dekat pasar itu. Hari-hari yu Lasmi selama ini dihabiskannya hanya untuk mengutuki kedua orang brengsek itu. Anaknya, Tio..yang baru kelas empat SD itu sepertinya jauh lebih bisa menerima kehilangan ayahnya. Dia tumbuh menjadi anak yang lebih dewasa dari usianya. Beberapa kali ketika dia mendapati ibu nya sedang melamun atau menangis diam-diam, dia akan berkata, “Sudahlah Ma..Papa jangan diingat-ingat lagi.” Kalau sudah begitu, Yu lasmi hanya bisa tersenyum sambil mengelus kepala anaknya itu.
Di lain waktu, dia akan mengumpulkan semua fotonya dengan suaminya, dimasukannya ke dalam kotak besar, kemudian dibawa ke halaman belakang dan dia bersiap-siap mengambil korek api. Tapi belum lagi korek api itu menyala, bayang-bayang kenangan dari foto-foto itu kembali menari-nari di pelupuk matanya. Korek api itu pun padam sebelum dinyalakan. Akhirnya, urunglah niatnya membakar foto-foto itu.
Bagi yu Lasmi, kenangan lebih mahal dari sebongkah emas sekalipun. Begitu pula kenangan dengan suaminya. Lelaki itu memang brengsek, meninggalkannya dengan anak yang baru berusia lima tahun. Dia pergi. Tanpa berkata apa-apa, tanpa meninggalkan apa-apa. Ditambah, kepergiannya dengan cara yang begitu menyakitkan. Lari bersama perempuan lain. Mungkin, rasanya tidak akan sesakit itu jikalau suaminya mati tertabrak truk barangkali, atau mati terjatuh dari atap genting rumahnya mungkin. Dan sungguh, kadang-kadang yu Lasmi berharap suaminya itu mati saja. Mati ditelan ular raksasa hidup-hidup. Kalau sudah sampai pada pikiran seperti itu, akan dibantingnya segala benda yang ada di dapur. Entah suaminya, entah bayang-bayang ular itu yang membuat kepala nya sakit seakan ditusuk ribuan bambu runcing. Yang kasihan anak semata wayangnya. Dia akan berteriak-teriak sambil menangis setiap kali mendapati ibunya berlaku seperti itu. Dan akan ramailah rumah di ujung komplek itu oleh para tetangga. Ada yang menenangkan, ada yang menasehati, ada yang menghibur, malah tidak sedikit yang hanya bisa mencibir atau sekedar mengasihani nasib perempuan itu. Bu RT yang otaknya sedikit lebih berisi dari para tetangga yang kebanyakan hanya bisa mengomentari itu akan cepat-cepat meraih Tio, diambilnya Tio ke rumahnya, lalu disuruhnya bermain dengan anak-anaknya. Sementara suaminya akan meminta para tetangga bubar yang kemudian akan disambut dengan gerutuan ibu-ibu yang memang senang bergosip. Dianggapnya pak RT telah menghalang-halangi langkah mereka mencari berita seperti layaknya wartawan yang diseret dari rumah pejabat korup oleh para pengawalnya.
Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari menyedihkan buat Tio. Anak lelaki berusia lima tahun yang telah ditinggalkan oleh ayahnya yang gila perempuan, dan harus hidup dengan perempuan setengah gila bernama ibu. Bu RT lah yang paling peduli pada nasib kedua anak beranak itu. Diajaknya yu Lasmi yang saat itu tidak memiliki pekerjaan untuk ikut berjulan pakaian wanita bersamanya. Mula nya yu Lasmi melakoninya dengan setengah hati. Jangankan berjualan, untuk berpikir bahwa dia masih hidup pun rasanya enggan. Tapi lagi-lagi Bu RT akan mengingatkan, “ingat yu..kau boleh saja mati, tapi anakmu itu harus hidup!” Dan ingatan akan anaknya itulah yang akhirnya membut yu Lasmi mau sedikit berpikir waras. Ditekuninya kegiatan barunya sebagai penjual pakaian. Mulanya dia mendapatkan upah dari pakaian yang berhasil dia jual. Hanya sedikit, tidak seberapa. Tapi cukuplah kegiatan itu membuatnya merasa hidup. Bu RT pun tahu penghasilannya tidak akan cukup walau sekedar untuk membeli beras sekalipun. Akan tetapi, menjualkan pakaian itu hanyalah caranya saja untuk membuat perempuan setengah  gila itu kembali waras.
***
Memang telah hampir lima tahun kejadian itu berlalu, dan setelah hampir lima tahun itu, baru kali ini Tio melihat ibunya tersenyum setiap hari. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena mimpinya malam jumat lalu. Mimpi Vino G. Bastian menjadi ayah dari Tio. Entah bagaimana alurnya mimpi itu sehingga mampu membuat yu Lasmi yang selama lima tahun bersedih itu tiba-tiba jadi tersenyum. Tak ada yang tahu, hanya yu Lasmi sendiri yang tahu.
Pagi itu yu Lasmi berdandan rapi sekali. Dipakainya gaun biru muda bermotif bunga  yang serasi dengan kulitnya yang putih. Sambil bersenandung, dia melangkah keluar kamar. Tio anaknya sudah berangkat sekolah pagi sekali. Hari itu Yu Lasmi sengaja meliburkan diri berjualan pakaian di pasar yang dilakoninya sehari-hari. Memang, rizki untuk orang yang mau mencariya itu selalu ada. Dan Tuhan pun membuka jalan  untuk perempuan itu. Dua tahun lalu, ada seorang pedagang di pasar yang menjual murah lapaknya karena hendak pulang kampung. Akhirnya, lapak pakaian itu pun dibeli oleh Bu RT, dimintanyalah yu Lasmi untuk menunggui lapak itu dari pagi hingga malam. Lama kelamaan, karena keuletan yu Lasmi  berjualan, lapak itu pun tambah ramai, bu RT senang, dan menjanjikan bagi hasil separuh-separuh untuk keuntungan lapak itu. Sampai sekarang, usaha itulah yang menopang kehidupan yu Lasmi dan putranya.
Yu Lasmi bergegas meninggalkan rumah. Roman mukanya yang cerah mengundang banyak tanya para tetangga.
“Berangkat ke pasar yu?” Sapa Bu Susi tetangga depan rumahnya.
“Wah, yu hari ini ayu sekali,” teriak Mbok karmi yang membuka warung di dekat pos ronda.
“Yu Lasmi lagi senang rupanya. Mau belanja ke mall ya yu?” Dewi anak Mbok Karmi ikut menimpali.
Yu Lasmi hanya senyum-senyum saja mendengar pertanyaan mereka. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum sambil terus berjalan. Dan walau pun orang-orang dilanda keheranan yang luar biasa sangat, tapi keheranan mereka terpaksa dipuaskan hanya dengan senyuman yu Lasmi. Sedangkan yu Lasmi, setelah keluar dari komplek tempat tinggalnya, dia kemudian berbelok kearah kanan. Menyetop bajaj yang lewat, dan berkata,
“ke mall di dekat stasiun ya Bang.”
Tanpa banyak bicara, sopir bajaj pun melarikan bajajnya dengan gesit di tengah kemacetan yang tampak sudah mulai mengular.
Di depan sebuah mall yang besar, yu Lasmi turun. Sejenak pandangannya ditujukan pada tulisan besar-besar di mall itu. Tidak salah lagi, itu adalah mall yang ada di dalam mimpinya. Dengan tersenyum lebar, yu Lasmi memasuki mall itu. Hatinya berbunga-bunga, dan dia pun telah mengenakan gaun bebunga-bunga sesuai anjuran Ki Kusumo. Bahkan, orang pintar di kampung sebelah itu pun telah memberikan dia pegangan berupa sekantong kecil bunga tujuh rupa yang dibungkus dengan kain putih, dan benda itu sekarang terselip di dompetnya. Menurut Ki Kusumo, mimpinya pada jumat malam yang lalu itu adalah pertanda bagus. Karena bertepatan dengan jumat pon dan berada pada bulan yang bagus. Yu Lasmi pun semakin yakin, dan tambah bersemangat ketika ki Kusumo mengatakan padanya bahwa dia akan bertemu dengan seorang pria yang sangat penting dalam hidupnya dan Tio.
Yu Lasmi terus berjalan, berkeliling berputar-putar, sebetulnya tak terlalu tahu hendak kemana. Niatkan saja jalan-jalan. Begitu kata ki Kusumo. Dan hampir separuh dari mall itu telah diputarinya dalam waktu satu jam. Bebagai toko dia masuki, semua iklan dia lihat, semua pertunjukan dia sempatkan saksikan. Sampai tak terasa perutnya keroncongan minta diisi. Dia pun mampir ke sebuah restoran cepat saji. Memesan seporsi nasi dan ayam goreng, lalu duduk di pojok ruangan. Yu Lasmi sedang khusyuk menyantap makannannya ketika tiba-tiba seseorang menyenggol meja nya dari pinggir. “oh maaf,” lelaki itu tergesa meminta maaf. Yu Lasmi menolah, dan mendadak, mukanya pucat pasi. Pasti dia melihat hantu. Lelaki di hadapannya tak kalah kaget. Wajahnya tiba-tiba kaku. Sementara seorang wanita lain sedang memandang mereka berdua. Seorang anak perempuan kecil, menarik-narik ujung kemeja lelaki itu. “Papa cepat..Ita udah laper..”
***
“Ki Kusumo benar-benar orang sakti.” Gumam uu Lasmi. Tio yang sedang menonton TV hanya menoleh sebentar. “Dia tahu aku akan bertemu lelaki itu.” sambung Yu lasmi.  “Siapa Ma..?” Tanya Tio. yu Lasmi tak menghiraukan pertanyaan Tio. Dia bangkit dari kursi, berjalan ke arah kamar, dan mengambil kotak besar yang ada di lemari paling bawah. Tio yang melihat ibunya membawa kotak itu keluar kamar, tiba-tiba meloncat dari kursinya. Jantungnya berdetak cepat. Dia sudah hapal benar apa yang akan terjadi apabila ibunya telah mengeluarkan kotak itu. “Tunggu Ma..!” Tio mengejar ibu nya ke halaman belakang. Mendadak bayangan ibunya menjerit-jerik dan berteriak menari-nari di pelupuk matanya. Mengingat itu nafasnya mulai tersengal. Tio tak ingin ibunya yang belakangan ini telah baik-baik saja, kembali menjadi ibu yang seperti dulu. Tapi sesampainya di pintu belakang, mendadak langkah Tio terhenti. Semua kata-kata yang sudah sampai di tenggorokan urung dia keluarkan. Dia melihat api berkobar-kobar di dalam sebuah drum sampah. Perlahan,  jantungnya kembali ke keadaan normal, nafasnya tak lagi tersengal, dan tiba-tiba sebuah senyuman tersungging dari bibirnya. Dia senang, kini, kotak sialan itu tak akan lagi menjadi mimpi buruk baginya.
***

Sudut  Jendela,
September, 2013

Gerhana*

Oleh : Noer Milansyah

Bulan bulat penuh mengintip dari balik rumpun bambu. Tersenyum ceria pada seorang wanita yang sedang berjalan tergesa menembus gelapnya malam. Cahaya keemasan menyelinap melewati pucuk-pucuk bambu yang sesekali bergoyang tertiup angin malam. Sepintas, pucuk-pucuk bambu itu terlihat bagai jemari denawa yang hendak mencengkram purnama dengan tangan kekarnya. Menculiknya seperti Rahwana yang mengambil Sinta dari tangan Rama, kemudian menyembunyikannya di Asoka. Bukankah begitu menurut cerita? Kisah yang jadi simbol cinta sepanjang masa. Rama yang menyelamatkan Sinta, dan Sinta yang tetap setia menunggu Rama. Cerita yang sebetulnya tak terlalu disukainya. Dia sama sekali tak melihat romantisme dari cerita itu. Kenapa harus selalu perempuan yang dituntut untuk setia? Kalau Rama menyintai Sinta, tentu tidak akan pernah ada ujian kesucian yang membuat Sinta menjatuhkan diri ke dalam kobaran api. Bukankah cinta seharusya memercayai dan mengabdi? Bukannya mencurigai dan menuntut untuk memberi bukti kesetiaan cinta. Baginya, kisah itu hanyalah salah satu dari kisah - Kisah yang lagi-lagi menempatkan lelaki menjadi makhluk yang semena-mena. Sinta yang diculik Rahwana bukan atas keinginannya, ditawan di Alengka dan dengan setia menunggu suaminya Rama, setelah bertemu justru malah harus menjalani ujian kesucian. Ujian kesucian  yang sebetulnya hanya menunjukkan dua hal. Pertama, Rama tidak bisa menerima Sinta yang tidak suci lagi karena diculik Rahwana. Kedua, Rama hanya menilai Sinta dari kesucian fisik yang kasat mata. Kenapa perempuan selalu dinilai dari hal-hal semacam itu? Kenapa penderitaan Sinta karena penculikan Rahwana harus bertambah pula dengan sikap suaminya Rama yang hanya mengurusi perihal kesucian? Seperti itulah yang dipikirkan wanita itu. Baginya, semua lelaki berjenis sama. Tidak peduli dia raja atau rakyat jelata, beragama tidak beragama..semuanya sama. Hanya memandang perempuan sebagai makhluk kedua.   
Malam terus beranjak. Dingin. Sedingin hati wanita itu. Langkahnya cepat, pikirannya berkelana pada masa-masa yang telah silam. Menyambangi kehidupan demi kehidupan yang telah dilewatinya. Baginya, hidup adalah perjalanan menyeberangi sungai yang begitu lebar dan dalam. Melawan arus, dan menaklukan batu-batu terjal dan curam. Sementara, jembatan untuk dia menyeberang, hanyalah sebatang bambu keropos yang licin. Kadang, dia berpikir, apakah perjalanannya harus dia tuntaskan sampai disini, sebelum menginjakkan kaki di batang bambu dan mulai meniti melintasi sungai kehidupan yang terasa teramat gelap. Seperti gerhana. Begitu dia bertanya setiap hari pada dirinya.
Terdengar oleh wanita itu suara ibunya dahulu yang selalu mengingatkan untuk berhati-hati menyeberang, berhati-hati meniti jembatan licin supaya tidak menjerumuskannya ke dalam jurang yang dalam dan terjal. Suara ibunya lantang memecah keheningan berbaur dengan deru arus sungai yang setiap malam terdengar dari balik gubuknya di bantaran sungai itu.
“Rin, lelaki adalah makhluk halus yang bisa merasuk ke tubuhmu, membuatmu kesurupan dan gila.” Begitu berkali-kali ibunya berkata kepadanya.
“setelah kamu menjadi gila, jangan harap dia akan berbaik hati membuatmu kembali waras,” Sambungnya.
“Jangan sekali-kali mendekati pria. Kalau perlu, pasang mantra penolak bala di depan pintu kamarmu,” kata-kata itu diucapkan ibunya dengan sorot mata tajam.
***
Wanita itu berjalan memecah kegelapan. Rambutnya yang terurai tertiup semilir angin malam. Purnama masih setia menemani. Semilir angin musim kemarau seakan mematahkan dahan-dahan kegelisahan di hatinya. Langkahnya tersendat-sendat. Sempat terpikir untuk berbalik arah. Tapi kemudian dia mempercepatnya kembali. Kenapa harus kembali? bukankah tadi sebelum berangkat hatinya telah diliputi tekad yang tidak bisa digoyahkan lagi? Sudah dengan penuh keyakinan akan menemui Mak Ijah. Mengingat itu, langkahnya semakin cepat. Melintasi pematang sawah, kebun-kebun palawija dan singkong, dan akhirnya sampai ke sebuah dusun yang dari tempatnya berdiri mulai terlihat atap-atap rumah berjejer. Dia mengatur nafasnya yang tersengal, diusapnya keringat di keningnya. Kemudian dengan perlahan,  menuju ke satu rumah yang dari kejauhan terlihat bercahaya. Bulan membuat bayang-bayang besar di tanah. Bayangan batang-batang pohon dan daun-daun seperti lukisan hitam-putih di atas kanvas. Di sebelah timur tampak hamparan sawah yang keemasan ditimpa cahaya bulan. Lambaian daun pohon pisang dan kelapa  seperti seseorang yang merindukan kekasihnya. Begitu pilu.  Wanita itu mengingat masa-masa kecilnya, bermain dan berlari di pematang sawah, membantu ibunya memanen padi, dan duduk di belakang sepeda ayahnya sepulang dari sekolah, atau mandi bersama kawan-kawannya di sungai. Kenangan yang indah. Sampai suatu hari, pada usianya yang kedua belas, ketika purnama membentuk bayang-bayang besar di halaman rumahnya, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, ibunya menangis meraung-raung di sudut kamar, dan itulah saat terakhir dia melihat ayahnya. Kata nenek, ayah diculik genderuwo karena terlalu sering pulang larut malam. Beberapa tahun kemudian, aku baru tahu bahwa genderuwo itu ternyata bisa berparas cantik juga.
***
Purnama semakin bersinar terang. Sementara lampu lima watt di kamar mak Ijah tidak mampu mengganti gerhana di hati wanita itu. Bau anyir darah, wangi kemenyan, perih di antara kedua kakinya, dan sakit di perut serta di hatinya. Semua bersekutu membuat bayang-bayang gelap yang menyelimuti kepalanya. Kemudian menjelma sebentuk makhluk mengerikan yang bahkan tidak mempunyai mata. Wanita itu ingin menjerit, tapi suaranya tercekat di tenggorokan. Makhluk itu semakin mendekat, merasuk ke kepalanya, ke jantungnya, ke hatinya, ke aliran darahnya..dan tiba-tiba, dia tidak ingat apa-apa. Benar kata ibunya, dia telah menjadi gila.
***
Bulat bulat penuh menggantung di angkasa. Tersenyum pada gemerlap kota di tengah bulan Agustus yang cerah. Keramaian dan keceriaan menjelang peringatan kemerdekaan. Semarak taman kota yang tampak ceria. Air mancur ditengah taman tampak berpendar-pendar tertimpa cahaya lampu. Seorang wanita terduduk di bawah pohon akasia. Telah ribuan hari semenjak terakhir kali dia melihat purnama, juga di taman itu. Purnama yang tersenyum kepada mereka berdua…dia dan lelaki itu. Sekarang dia hanya seorang diri. Sedang menatap purnama yang menggantung indah di angkasa sambil mengelus perutnya yang rata. Matanya kosong menatap langit. Dilihatnya nun jauh di sana, di permukaan bulan yang bundar itu, ada seorang anak lelaki kecil yang sedang berlari-lari, ditunggui oleh seorang nenek berambut putih. Mungkin itu Nini Anteh**. Seperti yang sering didongengkan neneknya sewaktu dia kecil.  Dan sekarang, Nini Anteh sedang mengajak bermain anak laki-lakinya. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya. Mengejar bulan yang tidak mau berhenti sambil terus berteriak.
“Tunggu ibu Nak, tunggu ibu…” teriaknya sambil beranjak dan berlari meninggalkan tempat duduknya.
Bocah lelaki kecil di bulan itu terus berlari dan tertawa. Rambutnya yang lurus seperti miliknya berkilauan ditimpa cahaya. Perempuan itu terus berlari. Tapi tiba-tiba, bocah lelaki itu berhenti berlari, dia menoleh dan melambaikan tangan. Perempuan itu bahagia bukan kepalang. Seketika dia menghentikan langkahnya. Dia akan naik ke langit, terbang ke bulan, dan menggendong anak lelakinya.
Tapi tiba-tiba, terdengar suara orang-orang berteriak,
“tabrak lari..!”
“orang gila.”
“perempuan tertabrak”
“orang gila tertabrak.”
“panggil polisi!”
***
Tapi wanita itu tak mendengar apa-apa. Dia sedang terbang ke bulan. Akan menggendong anak lelakinya yang lima tahun lalu dibawa makhluk mengerikan tak bermata di rumah Mak Ijah. Wanita itu terus terbang, semakin jauh meninggalkan kerumunan orang-orang. Dia tidak peduli pada polisi yang kemudian datang, pada ambulance yang meraung-raung kencang, pada angin malam, pada dingin dan kelam..juga pada lelaki yang seharusnya dipanggil ayah oleh anak lelakinya. Dia tak peduli, dia hanya ingin terbang, menuju bulan, menuju anak lelakinya. Dia hanya ingin menggendongnya….
                                                                      ***

Ket :
* Gerhana : ada cerpen dengan judul sama dalam bahasa sunda, Samagaha, di dalamnya ada bercerita tentang Nini Anteh.
** Nini Anteh:  adalah salah satu dongeng Sunda, yang merupakan sastra lisan yang sering diceritakan para orang tua kepada anak-anaknya tentang seorang nenek yang tiada henti-hentinya menenun di bulan. Pada kenyataannya yang disebut Nini Anteh itu adalah bayangan hitam atau motif yang nampak pada permukaan bulan apabila kita memandangnya. Bayangan itu menurut sebagian orang mirip dengan seorang nenek. Nenek itu disebut Nini Anteh karena  ia kelihatan sedang memintal benang kantih. Selama menenun, Nini Anteh selalu ditemani oleh seekor kucing kesayangannya yang bernama Candramawat. Kain hasil tenunannya itu bila telah selesai akan diberikan kepada aki yang sedang menyadap di bumi.


Sudut Jendela
Ramadhan, 2013

Bosan

Menikmati sakit, atau mensyukuri nikmat sehat yang pernah diterima? Ah..kadang kata-kata itu sukar diungkapkan ketika bosan. Ya, aku bosan. Bosan merasai semua yang harus terasa padahal aku tidak mau merasakan apa-apa. Sungguhkah ini sebuah perasaan yang patut singgah di hatiku? Hanya sebait rindu yang entah harus kualamatkan kepada siapa. Mungkin hanya bisa kusimpan untuk seseorang bernama diam, atau harus kuutarakan bagi sesosok sepi? Entahlah..rumput yang kering dan angin yang bising tak pernah bisa memberitahuku kemana semestinya ini kualamatkan. Dan lagi-lagi, keriangan yang menghilang dari sudut itu belum juga bisa kutemukan. Mungkin tertinggal di sehelai senyumanmu, atau tertukar dengan pahit kata-katamu. Lagi-lagi entahlah. Aku hanya sepi, sepi yang tak tahu mesti kularungkan kemana...

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.