Minggu, 12 April 2015

Kalakay Peuting



Ku : Noer Milansyah



Kalakay peuting…
Najan ukur sapasi, bulan teu nembongan.
Ukur aya kalakay, nu ragrag tina regang,

Kalakay peuting..
Ragrag tina tangkal pangharepan,
Basa lengkah jadi regang meuntaskeun kahayang.
Aya panon nu leungiteun teuteupna, dina tungtung kalakay..
Aya sora nu satia mupusti kapanasaranan,
Aya galecok dina diri sewang-sewangan,
“ Naha pamohalan, saupama urang nulas nulis takdir sorangan?”




.




Jalan Itu....



Oleh : Noer Milansyah


Jalan itu bernama kehampaan
Yang dia tempuh bersama ribuan kegelisahan
Melintasi padang-padang dan sungai
Serta lembah penuh anyir darah
Dan matahri memanggang harapan
Menjadi arang penuh kebencian
Kemudian dia taburkan abunya
Pada pantai tak bertepi
Berharap larung seluruh kesumat
Disapu ombak
Dan dihirup camar-camar yang mengepakkan sayap
Kemudian angin akan bersenandung lirih
Menyanyikan kidung yang menyayat
Menggetarkan seluruh debar yang tertinggal
Lantas malam akan merengkuhnya
Ke dalam dekapan senyap
Memeluknya dengan lengan yang dingin
Sampai beku sekujur sanubari.

Ruang Sunyi
11022015
13:05

Inikah rindu?




Inikah rindu?
Ketika semua hal tak menyenangkanku?
Berapa lama kita tak bertemu?
Bercakap dalam malam-malam sunyi
Dan hening yang sepi?
Masihkan Engkau disana?
Sedang aku telah berlari menjauhiMU.


120415

Cerita Malam


Engkaukah rindu,
Yang menorehkan seulas pilu,
Di catatan harianku?

Kalau pagi kuanggap ganjil,
Maka malam ini begitu janggal.
Tak ada jendela yang bisa kubuka.
Untuk sekedar meloloskan rasa rinduku,
Pada pekat malam



30082014

00:37

Lelaki dan Seruling Bambu

Oleh : Noer Milansyah


“Dia meninggalkanku,” katamu.
Lalu kau pun berlari di pematang sepi.
Berusaha menabuh bebunyian untuk meramaikan sunyimu.
Sampai seseorang datang,  meniupkanmu seruling kedamain.
Kamu begitu terlena dengan suaranya,
Suara paling merdu yang pernah kau dengar.
Setiap hari minggu, dia meniupkan serulingnya untukmu.
Kau akan dengan tak sabar menantinya
di bawah rindang hanjuang tua.
Disana, biasa kalian bertemu.
Dalam bisu, dengan alunan seruling bambu.
Betapa damai hatimu.
Kau bermimpi bisa mendengar suara itu sepanjang hidupmu.
Tapi…suatu hari, tiba-tiba dia menghilang.
Meninggalkan seruling bambunya untukmu.
Dia bilang, ingin menjad kepodang,
Ingin mengepakkan sayap melihat-lihat isi dunia.
Kau pun membisu.
Air matamu tersapu oleh hujan.
Kepodang itu mulai terbang menjauhimu,
Dan seruling bambu…



Ruang sunyi
01092014
17:00

Buntu



Oleh : Noer Milansyah
 

Terjebak dalam lorong waktu
gelap dan pengap.
Tidak sedang memburu atau diburu.
Hanya buntu.
Tak berwaktu.
Kehilangan jam di detak waktu.
Aliran zaman menyeretku dalam pembuluh rindu.
Akankah kutemuiMu?
Bukankah kita begitu dekat?
Sedekat jantung dengan detaknya?
Tetap buntu,
Tak berwaktu.
Aku terhenti dari jalanku.
Aku berputar dalam lorong-lorong berhantu.
Ketakutan yang menyakitkan.
Perih yang mengiris-iris.
Darah bercucuran dari nadi zaman.
Inikah rindu?
Sedang aku tak menemukanMu.
Buntu,
Tak berwaktu.
Inikah zaman batu?
Seperti hatiku yang tak mengenal peradaban.
Menjadi primitive bahkan.
Dan aku,
Hanya buntu.
Di lorong waktu.
                      
                                                                                                                                          10 juni 2014
                                                                                                                                                                10:59

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.