Jumat, 01 Juli 2016

Balada Ujian Sekolah

Aku rindu sekolah yang di dalamnya ada anak-anak yang tertawa-tawa, mereka bebas berlari mengejar bola atau menggambar dengan ceria.

Aku rindu sekolah yang di dalamnya ada anak-anak yang tersenyum bahagia, mereka bisa membuat karya apapun yang mereka suka dan memperlihatkannya pada dunia.

Aku rindu sekolah yang di dalamnya hanya ada anak dan orang tua. Mereka menjalin kasih sayang tak sebatas sebutan "Pa Guru, Bu Guru atau Nak!"

Aku rindu sekolah yang di dalamnya bergema mimpi-mimpi dan harapan yang terus dinyanyikan..

Aku rindu sekolah yang ijazahnya adalah selembar kasih sayang dan kejujuran...

Ruang Jiwa
17 Mei 2016, 12:34
(Selepas Ujian Sekolah)

Petualang Cilik

Petang ini beberapa orang murid datang ke rumah. Dalam hujan mereka berkerumun di teras yang sempit, bercakap dalam bisik yang ujung - ujungnya kedengaran juga berisiknya. Seorang anak yang paling besar karena usianya pun sebetulnya telah melampaui usia SD, dikarenakan terlalu seringnya tidak naik kelas itu menghampiriku perlahan. Dia mencium tanganku dan tangan semua orang yang ada di rumah. Kemudian duduk di lantai mengikutiku. "Mau ada perlu sama ibu," ujarnya sopan.
Aku senyum-senyum saja melihat tingkahnya, karena bagiku yang dalam keseharian bersama anak itu terus, tingkahnya itu terasa janggal. "Sejak kapan dia bisa bersikap manis?" Tapi tentu tak kuutarakan. Sehabis hujan reda, segerombolan remaja tanggung itu pun meninggalkan teras rumah juga. Berboncengan mereka menuju rumah masing-masing.
Ada satu kekhawatiran sebetulnya ketika menyaksikan punggung mereka menghilang dibawa cepat larinya sepeda motor, yaitu mengenai "Akan jadi apa mereka kelak?" Cukupkah mereka menjadi apa yang dicita-citakannya saja? Cukupkah mereka hanya jadi dokter? Hanya jadi guru? Hanya jadi tentara atau polisi seperti yang selalu mereka bilang setiap kali ditanya perihal cita-cita? Ah..tentunya masa depan tak sesederhana itu.
Bukanlah dokter, guru, polisi, tentara, presiden, artis atau pun pengusaha yang akan meninggikan derajat mereka. Tentu saja bukan. Ini mengenai bagaimana caranya menjadi manusia. Menjadi dewasa melalui sebuah proses yang berupa jalan panjang yang memerlukan petunjuk. Jadi apapun mereka kelak. Mereka tak bisa berjalan sendirian, tak bisa dibiarkan memilih jalan yang tak mereka ketahui ujungnya akan sampai dimana. Mereka adalah para petualang cilik yang masih memerlukan kompas, peta, dan bahkan perbekalan yang memadai. Dalam perjalanan yang penuh dengan kesiapan itulah, mereka akan menuju puncak keberadaanya. Mereka akan memahami hakikat menjadi dewasa, dan pada akhirnya..mereka akan paham apa itu hakikat manusia.
Kitalah kompas dan peta itu. Kita pula yang akan menyediakan perbekalan buat mereka.
Kitalah..
para orang tua dan guru...

Ruang Jiwa
20 Mei pukul 22:16

Nasib Proposal Tesis

A: "Bagaimana kabar tugas-tugasmu?"
B: "Baik-baik saja."
A: "Maksudnya?"
B : "Masih tersimpan di kepala dan belum berubah jadi satu kalimat pun!

Sudut Jendela
21 Mei pukul 4:41

Kata Si Kabayan

Konon katanya, hal yang paling sulit itu menertawakan diri sendiri. Gak seperti nonton komedi. Saya sering begitu, mencoba melihat sisi humor dari setiap kemalangan. Heheh..
Susah sih..tapi apa salahnya dicoba. Siapa tahu kita malah jadi tertawa terpingkal-pingkal. Seperti kata si Kabayan, "Karena biar bagaimana pun juga, hidup ini adalah baik. Jadi mari kita semua ketawa-ketawa riang gembira!"

Sukabumi
23 Mei pukul 21:45

Sekolah Negeri, Untuk Siapa?

Sementara sekolah-sekolah negeri favorite mulai sibuk menjaring siswa-siswa berprestasi, lantas kemanakah larinya siswa-siswa yang "dianggap" tidak berprestasi? Dengan tidak bermaksud mengabaikan prestasi anak yang dicapai dengan kesungguhan dan kegigihan dalam belajar, saya sering berpikir, "Apakah pelayanan pendidikan yang maksimal hanya untuk anak-anak pintar?" Bukankah anak-anak yang kurang berprestasi pun layak dan pantas mendapatkan pelayanan pendidikan yang maksimal?
Dan saya sungguh merasa salut, dengan sekolah-sekolah yang mau menerima dan menampung anak-anak yang dicap "bodoh, nakal, dan berandalan." Kesediaan untuk menerima dan mendidik mereka merupakan hal yang luar biasa. Karena kewajiban negara bukan hanya memintarkan siswa yang pintar saja, akan tetapi mencerdaskan seluruh anak bangsa tanpa terkecuali. Menjadikan mereka anak-anak yang cerdas tidak hanya dalam segi akademik, melainkan juga cerdas emosional dan spiritual. Bukankah begitu yang tertera dalam amanat pendidikan nasional kita?
Dan karena pendidikan bukan hanya milik anak-anak pintar, sangat bijak kiranya apabila sistem seleksi di sekolah -sekolah tidak lagi hanya untuk memilah-milah yang pintar dengan yang tidak pintar. Akan tetapi, alangkah bijaknya apabila seleksi itu hanya untuk memetakan kemampuan siswa saja guna kepentingan proses pembelajaran.
Wallahualam...

27 Mei pukul 13:19

Pindah Cai Pindah Pileumpangan

Dalam pepatah Sunda ada peribahasa "pindah cai pindah pileumpangan." Peribahasa itu ditujukan kepada orang yang tidak istiqomah. Atau istilah lainnya adalah tidak konsisten atau tidak menjadi manusia yang otentik. Kalau kita lenyepan (renungkan), peribahasa ini mengajak kita untuk menjadi manusia yang sadar akan entitas dirinya. Tidak menjadi manusia yang mudah terbawa arus dan mudah larut dengan keadaan sekelilingnya. Tidak asin ketika berada di laut, tidak bising ketika berada di keramaian, tidak hilang dalam kegelapan. Dan seperti inilah mungkin perwujudan manusia Sunda seharusnya. Memiliki kesadaran akan hakikat dirinya sebagai manusia, apapun peran yang dilakoninya dalam hidup. Dan Ramadan kiranya adalah kesempatan bagi manusia untuk belajar menjadi manusia.

Sukabumi
5 Juni pukul 22:40

Kita dan Laron-Laron

Laron-laron beterbangan di depan rumah kita mengitari lampu neon yang bersinar terang. Menari-nari ditingkahi suara jengkerik yang sesekali bernyanyi. Mengantarkan kerinduan kepada sebuah negeri khayalan tentang anak-anak yang tertawa riang. Berceloteh tentang dongeng putri dan pangeran. Sesuatu yang selalu menyeberangkan harapan dan kenyataan. Dan Malam..adalah juga berarti bulan, bintang, serangga dan binatang malam, serta kesunyian yang menyenangkan, yang selalu kita rindukan di tengah bingar siang yang menjemukan.

Ruang Jiwa
10 Juni pukul 11:07

Akuarium Ular

"Ceritanya begini, Bu..ada sebuah kotak udara besar yang dijadikan kandang ular. Seseorang memelihara ular besar disana. Dia menyiramkan air setiap hari kesana biar pohon dan rumput bisa tetap hidup dan ular juga hidup. Dibiarkannya ular itu setiap hari mengejar tikus-tikus yang ada disana," kata Bibil sambil menunjukkan gambar terbarunya.

12 Juni 2016
04:59

Ziarah, kakek, Ikan, dan Kenangan

Masih teringat suatu siang pada usiaku yang ke empat, aku terbangun di rumah nenek dan semua orang menghilang. Aku ketakutan dan hampir menangis ketika akhirnya kudapati semua orang sedang mengerubungi kakek dan seeokor ikan sangat besar yang digantung di dapur. "Kemarilah, lihat ini ikan tangkapan kakek!" Serunya kepadaku. Aku terbelalak melihat ikan sungai sebesar itu. Panjangnya hampir menyamai tinggi kakek.
Dan itu adalah sekelumit ingatanku tentangmu. (Mengenang Kakek di tepian sungai Cimandiri)

13 Juni pukul 10:12

Kembang Api

Seperti kembang api, berpendar dan bersinar. Begitulah seharusnya kehidupan...

Saat Rindu Bertanya pada Senja

Langit selalu berbeda pada setiap pukul lima belas,
tak jarang senja bercerita,
mengirimkan bait-bait sajak
ke sebuah negeri bernama kerinduan.
Kemudian ketika kau meloloskan sunyi
yang sedari tadi terperangkap dalam jeruji hati,
kemanakah seharusnya dia bertujuan?

Setelah dua minggu di rumah saja

Setelah dua Minggu di rumah saja. Beberapa hari ini hujan mengguyur tak kenal ampun. Tak ada yang tahu akan seperti apa hidup ini.